Tuesday, May 3, 2011

PUISI : Tak Ingin Berprasangka

Tak Ingin Berprasangka
By : Sarlen Julfree


Ketika aku ingin membuka lembaran baru,
Aku tahu apa yang harus aku lakukan...
Aku tak mencoba 'tuk memaksa orang lain,
Agar melihat dan memandang aku,
Seperti adanya aku...

Kehadiranku,
Selalu kunyatakan,
Seperti jelas yang kuinginkan...
Seperti lancar kutuliskan...
Seperti ramah kukatakan...
Apa adanya...

Apa yang kuberikan adalah ketulusan
Apa yang kutaruh, ada dasar dari nurani
Dan apa yang terucap, bukan buah kepalsuan...

Ada hawa baru yang kubawa,
Ada kasih yang kutebar,
Ada harap 'tuk perbaiki asa,
Ada kebahagiaan yang ingin engkau peroleh...

Ketika orang lain memberi sejuta alasan,
Aku hanya tersenyum
Karena ketika aku harus katakan : :hentikan...!"
Aku berharap mereka tahu,
Tak ada lagi satu alasan, untuk membual...

Aku memang memiliki besar harap,
Kepada mereka, atau salah satu dari mereka
Untuk selalu membuka mata dan hati,
Sekejap demi sekejap,
Melihat dan memperhatikan
Tak hanya memandang satu sisi ego saja
Bahwa inilah perbedaan dalam alur seutuhnya...

Aku memang bukan yang terbaik,
Tapi aku tahu bagaimana cara memberi yang terbaik...
Karena hanya yang terbaik,
Layak mendapatkan yang terbaik...

Aku tak ingin menjadi badai bagi kehidupan orang lain
Aku tak ingin membuat nafas memburu diantara amarah,
Aku tak ingin menjadi batu sandungan bagi mereka...
Meskipun ada makna mengetuk hati didalamnya...

Mungkin, sangatlah mungkin...

Sekarang,
Aku ingin orang lain benar-benar tahu,
Sungguh tiada yang mudah,
Bila kita tak tahu,
Sebaris alur tindakan yang akan kita perbuat, kemudian...
Menghadirkan satu pilihan agar kita memilih

Aku hanya akan berkata : "Tunggu, berikan waktu 'tuk merenung..."

Ketika orang lain berkata sejuta larung padaku,
AKu tahu,
Ada batu yang dilemparkan padaku...
Tapi aku bukan kayu...
Aku juga bukan manusia batu...
Namun jelas ingin kukatakan :
"Tolong, perhatikan langkahmu,
Karena mungkin saja,
Ada batu yang 'kan menyandung di jalan,
Yaitu batu yang sama,
Yang telah kamu lemparkan padaku..."

Aku begitu,
Karena aku ingin mengambil satu aral yang tepat,
Dengan kata yang tepat,
Kesimpulan yang tepat,
Dan menatap jauh ke dalam mata,
Dengan tepat...

Jangan pernah menilai ketika engkau menimbang,
Namun menimbanglah ketika engkau akan menilai...

Kualitas diri memang dapat diasah,
Namun kualitas hati, siapa yang tahu...

Lubuk hati memang yang paling jujur,
Karena tanpa hati, tak bisa engkau jujur...
Hingga apa yang diperbuat menjadi beban,
Bahkan bisa juga melibatkan yang lain...

Nah,
Sekarang engkau sudah tahu
Kalau aku, hanya ingin menyambut fajar,
Melalui keindahan temaram malam,
Dalam sebuah penantian...
Menunggu... menanti... berharap yang terbaik...
Agar ketika aku harus larung dalam badai,
Aku tahu harus berbuat apa serta berkata apa...

Jaga mulut...
Jaga hati...
Jaga rasa...
Untuk cinta dari hati...
Mengungkap nada-nada kasih...



Jakarta, 6 Juli 2008

SIMPHONY JIWAKU

SIMPHONY JIWAKU
By : Sarlen Julfree Manurung



Aku lelah...
Aku butuh embun membasuh asaku
Kala lara terpendam dan tak lagi tenang...

Cermin yang kutaruh, hadirkan bulir-bulir kepenatan
Hingga aromanya mampu hempaskan segenap rasa
Menenggelamkanku dalam bayang-bayang...
Menjauh dari segenap aral,
Lepaskan segenap harap, dalam kedamaian

Sepi menaungiku...
Sekejap, aku terjebak dalam kepalsuan
Mulutku bimbang,
Diriku kalut...
Resah membuat mataku berkabut
Aku lemah,
Hatiku hancur bagai puing-puing
Meski gemerlap dunia ada disekitarku

Dalam murka, aku ingin tegak berdiri...
Ingin rasanya aku menjerit,
Tapi hatiku terlalu sakit...
Ingin aku berlari,
Tapi tugasku belum selesai...
Ingin aku menoleh,
Tapi aku tak ingin mengulang kesalahan...
Aku tak ingin menyesal...

Duhai simphony jiwaku,
Saat teduh sikap menaungiku,
Aku tak ingin larung dalam kebencian,
Aku tak ingin terpaku dalam kesal
Aku mungkin bukan mentari,
Aku juga bukan peri suci,
Tapi aku bukanlah duri...
Karena cintaku, tak pernah basi...




Jakarta, 9 November 2008
Time : 21.45 PM

Balada Cowok Ancur Tapi Pe-De

Aku adalah seorang cowok yang jayus dan lebay abis...

Meskipun wajahku minimalis,

Tapi aku tetap merasa manis

Apalagi diatas bibirku yang tipis,

Melintang sedikit kumis

Rambutku pakai poni, yang turun hingga menutupi alis,

Gak keren-keren amat, tapi tetap modis...

Namun yang paling penting tuhhh... aku bukan pecinta sejenis...

Meskipun agak ceriwis,

Tapi aku cowok romantis...

Kalo apel, selalu bawa seikat bunga edelweiss

Sama sekotak kue brownies,

Yang bertaburkan keju dan juga kismis

Gak masalah dompet jadi kembang-kempis

Karena jumlah gaji dan uang keluar, emang selalu remis...

Pokoknya, jarang banget dehhh... punya uang taktis,

Untuk sekedar bikin rambut kelimis,

Atau beli parfum biar badan gak bau amis...

Tapi aku orangnya gak pernah pesimis

Untuk berani mencintai seorang gadis,

Anak juragan angkot, asal Ciamis,

Aku tetap PeDe abis dan tampil necis...

Dandan keren seperti mau melakukan kegiatan bisnis,

Meski berangkat ke rumah pacar, harus 3 kali naik bis...

Sampai rumah pacar, disuguhi kopi dan martabak manis...

Duduk disamping pacar, yang berbaju agak tipis...

Melihatnya, muka aku mesam-mesem najis...

Ingin colak-colek, tapi tangan selalu ditepis..

Sampai akhirnya pura-pura mau pipis, karena ada Oom Kumis

Meski perut mules, tapi tetap cengangas-cengingis..

Karena tadi di jalan, sempat jajan beli rujak petis

Yang pedesnya kagak abis-abis

Seakan perut diiris tipis-tipis...

Akhirnya ijin pulang, meskipun lagi hujan gerimis

Karena udah nggak tahan sakit, dan terus-terusan meringis

Gengsi ajah nahan pedih sampe mau nangis...

Meski hati, masih ingin disamping si manis

Jakarta, 07 August 08 / 5 Mei 2011