Tuesday, May 3, 2011
PUISI : Tak Ingin Berprasangka
By : Sarlen Julfree
Ketika aku ingin membuka lembaran baru,
Aku tahu apa yang harus aku lakukan...
Aku tak mencoba 'tuk memaksa orang lain,
Agar melihat dan memandang aku,
Seperti adanya aku...
Kehadiranku,
Selalu kunyatakan,
Seperti jelas yang kuinginkan...
Seperti lancar kutuliskan...
Seperti ramah kukatakan...
Apa adanya...
Apa yang kuberikan adalah ketulusan
Apa yang kutaruh, ada dasar dari nurani
Dan apa yang terucap, bukan buah kepalsuan...
Ada hawa baru yang kubawa,
Ada kasih yang kutebar,
Ada harap 'tuk perbaiki asa,
Ada kebahagiaan yang ingin engkau peroleh...
Ketika orang lain memberi sejuta alasan,
Aku hanya tersenyum
Karena ketika aku harus katakan : :hentikan...!"
Aku berharap mereka tahu,
Tak ada lagi satu alasan, untuk membual...
Aku memang memiliki besar harap,
Kepada mereka, atau salah satu dari mereka
Untuk selalu membuka mata dan hati,
Sekejap demi sekejap,
Melihat dan memperhatikan
Tak hanya memandang satu sisi ego saja
Bahwa inilah perbedaan dalam alur seutuhnya...
Aku memang bukan yang terbaik,
Tapi aku tahu bagaimana cara memberi yang terbaik...
Karena hanya yang terbaik,
Layak mendapatkan yang terbaik...
Aku tak ingin menjadi badai bagi kehidupan orang lain
Aku tak ingin membuat nafas memburu diantara amarah,
Aku tak ingin menjadi batu sandungan bagi mereka...
Meskipun ada makna mengetuk hati didalamnya...
Mungkin, sangatlah mungkin...
Sekarang,
Aku ingin orang lain benar-benar tahu,
Sungguh tiada yang mudah,
Bila kita tak tahu,
Sebaris alur tindakan yang akan kita perbuat, kemudian...
Menghadirkan satu pilihan agar kita memilih
Aku hanya akan berkata : "Tunggu, berikan waktu 'tuk merenung..."
Ketika orang lain berkata sejuta larung padaku,
AKu tahu,
Ada batu yang dilemparkan padaku...
Tapi aku bukan kayu...
Aku juga bukan manusia batu...
Namun jelas ingin kukatakan :
"Tolong, perhatikan langkahmu,
Karena mungkin saja,
Ada batu yang 'kan menyandung di jalan,
Yaitu batu yang sama,
Yang telah kamu lemparkan padaku..."
Aku begitu,
Karena aku ingin mengambil satu aral yang tepat,
Dengan kata yang tepat,
Kesimpulan yang tepat,
Dan menatap jauh ke dalam mata,
Dengan tepat...
Jangan pernah menilai ketika engkau menimbang,
Namun menimbanglah ketika engkau akan menilai...
Kualitas diri memang dapat diasah,
Namun kualitas hati, siapa yang tahu...
Lubuk hati memang yang paling jujur,
Karena tanpa hati, tak bisa engkau jujur...
Hingga apa yang diperbuat menjadi beban,
Bahkan bisa juga melibatkan yang lain...
Nah,
Sekarang engkau sudah tahu
Kalau aku, hanya ingin menyambut fajar,
Melalui keindahan temaram malam,
Dalam sebuah penantian...
Menunggu... menanti... berharap yang terbaik...
Agar ketika aku harus larung dalam badai,
Aku tahu harus berbuat apa serta berkata apa...
Jaga mulut...
Jaga hati...
Jaga rasa...
Untuk cinta dari hati...
Mengungkap nada-nada kasih...
Jakarta, 6 Juli 2008
SIMPHONY JIWAKU
By : Sarlen Julfree Manurung
Aku lelah...
Aku butuh embun membasuh asaku
Kala lara terpendam dan tak lagi tenang...
Cermin yang kutaruh, hadirkan bulir-bulir kepenatan
Hingga aromanya mampu hempaskan segenap rasa
Menenggelamkanku dalam bayang-bayang...
Menjauh dari segenap aral,
Lepaskan segenap harap, dalam kedamaian
Sepi menaungiku...
Sekejap, aku terjebak dalam kepalsuan
Mulutku bimbang,
Diriku kalut...
Resah membuat mataku berkabut
Aku lemah,
Hatiku hancur bagai puing-puing
Meski gemerlap dunia ada disekitarku
Dalam murka, aku ingin tegak berdiri...
Ingin rasanya aku menjerit,
Tapi hatiku terlalu sakit...
Ingin aku berlari,
Tapi tugasku belum selesai...
Ingin aku menoleh,
Tapi aku tak ingin mengulang kesalahan...
Aku tak ingin menyesal...
Duhai simphony jiwaku,
Saat teduh sikap menaungiku,
Aku tak ingin larung dalam kebencian,
Aku tak ingin terpaku dalam kesal
Aku mungkin bukan mentari,
Aku juga bukan peri suci,
Tapi aku bukanlah duri...
Karena cintaku, tak pernah basi...
Jakarta, 9 November 2008
Time : 21.45 PM
Balada Cowok Ancur Tapi Pe-De
Aku adalah seorang cowok yang jayus dan lebay abis...
Meskipun wajahku minimalis,
Tapi aku tetap merasa manis
Apalagi diatas bibirku yang tipis,
Melintang sedikit kumis
Rambutku pakai poni, yang turun hingga menutupi alis,
Gak keren-keren amat, tapi tetap modis...
Namun yang paling penting tuhhh... aku bukan pecinta sejenis...
Meskipun agak ceriwis,
Tapi aku cowok romantis...
Kalo apel, selalu bawa seikat bunga edelweiss
Sama sekotak kue brownies,
Yang bertaburkan keju dan juga kismis
Gak masalah dompet jadi kembang-kempis
Karena jumlah gaji dan uang keluar, emang selalu remis...
Pokoknya, jarang banget dehhh... punya uang taktis,
Untuk sekedar bikin rambut kelimis,
Atau beli parfum biar badan gak bau amis...
Tapi aku orangnya gak pernah pesimis
Untuk berani mencintai seorang gadis,
Anak juragan angkot, asal Ciamis,
Aku tetap PeDe abis dan tampil necis...
Dandan keren seperti mau melakukan kegiatan bisnis,
Meski berangkat ke rumah pacar, harus 3 kali naik bis...
Sampai rumah pacar, disuguhi kopi dan martabak manis...
Duduk disamping pacar, yang berbaju agak tipis...
Melihatnya, muka aku mesam-mesem najis...
Ingin colak-colek, tapi tangan selalu ditepis..
Sampai akhirnya pura-pura mau pipis, karena ada Oom Kumis
Meski perut mules, tapi tetap cengangas-cengingis..
Karena tadi di jalan, sempat jajan beli rujak petis
Yang pedesnya kagak abis-abis
Seakan perut diiris tipis-tipis...
Akhirnya ijin pulang, meskipun lagi hujan gerimis
Karena udah nggak tahan sakit, dan terus-terusan meringis
Gengsi ajah nahan pedih sampe mau nangis...
Meski hati, masih ingin disamping si manis
Jakarta, 07 August 08 / 5 Mei 2011
Friday, February 4, 2011
Jangan Biarkan Masalah Menyandung Cinta
NOTE :
Tulisan ini terinspirasi oleh catatan status dan tulisan note (catatan) teman-teman saya di facebook, yang kemudian menginspirasi saya untuk menulis artikel dengan judul : Jangan Biarkan Masalah Menyandung Cinta.
---
Sepanjang rentang waktu perjalanan hidup kita, sulit rasanya untuk menghindari adanya masalah agar tidak menaungi diri kita. Alasannya, ketika masalah mulai memecah perhatian kita, rasa-rasanya tidak mudah bagi hati serta pikiran kita untuk segera mendamaikan diri dengan suasana tidak nyaman yang tercipta, yaitu pada saat masalah mulai merampas sebagian waktu dan energi kita.
Besarnya beban masalah yang sedang kita hadapi, disadari atau tidak, pada satu masa waktu, dapat pula mengganggu tumbuh kembangnya cinta kasih kita pada seseorang yang kita kasihi. Hal ini terjadi karena diri kita cenderung lebih fokus pada upaya memecahkan masalah yang sedang kita hadapi, dibandingkan memberikan perhatian lebih atas cinta yang ada di hati terhadap pasangan atau kekasih hati kita.
Pada sisi yang lain, cinta sulit mengalir dengan indah, apabila masalah hadir sebagai "batu ujian" dalam hubungan cinta kasih dengan kekasih hati kita.
Cinta yang seharusnya membuat hati dan wajah kita tampak ceria serta berseri-seri sepanjang hari. Namun keadaan akan terasa berbeda, ketika cinta dapat dianggap sebagai perusak harmonisasi hidup, yaitu pada saat masalah mulai menaungi gairah diri untuk dapat mengekspresikan berbagai ungkapan kasih kepada pasangan atau kekasih hati tercinta.
Masalah yang menaungi hubungan sepasang anak manusia yang saling mengasihi, akan menghadirkan : rasa kesal, amarah, gelisah, sedih dan kecewa. Padahal, masalah tak akan pernah usai apabila kita sendiri tidak pernah mencoba untuk menyelesaikannya.
Sepandangan mata aku, pada status atau note (catatan) yang dituliskan oleh sejumlah teman, hal-hal yang menjadi masalah dalam hubungan cinta kasih yang sedang dibina dalam bentuk pacaran (atau bahkan, pasangan suami-isteri) adalah masalah kurangnya perhatian, masalah keuangan, dan masalah pengendalian sikap. Lalu masalah komunikasi (terutama sikap egois dari salah satu pihak) yang terhambat. Kemudian, ada pula yang memaparkan tentang adanya suatu prasangka yang berlebih-lebihan.
Ada yang tersirat, namun ada pula yang "sepertinya" terus terang diucapkan, yaitu sebagain ungkapan suasana hati yang sedang dirasakan.
Apabila ingin dijabarkan lebih lanjut, maka semua masalah yang teman-teman kemukakan melalui status atau note tersebut, pada akhirnya akan bermuara pada sebuah kalimat yang ingin bertanya : haruskah kondisi itu terjadi?
Masalah ada untuk diselesaikan, bukan untuk didiamkan atau untuk dinikmati. So, jangan biarkan problema mengaburkan (bahkan mampu menghanyutkan) makna indah dari keagungan cinta yang ada didalam hati kita.
Kalau ada masalah, bicarakanlah. Sebuah titik temu (kesepakatan untuk saling mengerti, memahami, dan menghargai) tak akan pernah tercipta apabila masing-masing pihak tidak memiliki keinginan untuk bertemu, saling memberikan pandangan dan mendengarkan pandangan yang dapat diterima atau tidak dapat diterima, serta mengkompromikan berbagai kemungkinan yang bisa dikompromikan dengan pasangan / kekasih hati kita.
Apabila ada kesalahan yang terjadi, segeralah minta maaf, jangan tunggu lama-lama. Sebuah kesalahan mungkin saja terjadi sebagai sebuah kealpaan. Namun, kesalahan juga bisa terjadi karena salah satu pihak lebih mementingkan diri sendiri, sehingga melupakan atau lupa dengan keberadaan pasangannya. Kesalahan, dapat pula terjadi karena tidak sengaja melakukannya.
Kesalahan yang dibiarkan berlarut-larut, dapat membebani pikiran dan menimbulkan kekacauan suasana hati. Kita dapat mengelimir kondisi tersebut apabila pihak yang berbuat salah, berani mengucapkan kata maaf, sedangkan pihak yang disakiti oleh adanya kesalahan yang dibuat oleh pasangan atau kekasih hatinya, dapat mengucapkan kata maaf dengan tulus.
Satu kesalahan kecil jangan pula dibesar-besarkan kalau kita tidak ingin masalah kecil itu justru membuat hati dan pikiran kita dipenuhi oleh kesan-kesan buruk atau pola pandangan negatif, yang berkecamuk karena telah tercipta suatu suasana yang penuh dengan ketidak-pastian, hingga akhirnya berkembang menjadi cerita kehidupan yang tidak ingin kita lalui atau hadapi.
Bicaralah baik-baik. Kita tidak selalu dapat menerka, kapan masalah datang. Jadi, sebuah komunikasi merupakan sebuah alur yang seharusnya intens dilakukan, karena dengan mengembangkan suatu pola komunikasi yang baik, maka akan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik dan semakin baik lagi, akan cara pandang serta pola sikap pasangan / kekasih hati kita.
Sebisa mungkin, jangan biarkan diri kita ini mudah untuk mengucapkan kata-kata kecaman atau hinaan...!
Ingatlah..!!! Sebuah kata kecaman atau hinaan, pada dasarnya bisa menimbulkan perasaan ditolak atau dipersalahkan, bukan mengayomi, menghibur atau mendukung. Keberadaan kekasih dapat dimanfaatkan sebagai tempat curhat atau berbagi rasa sayang, bukan memperlakukannya sebagai pembantu (kita bertindak sebagai majikan) atau karyawan rendahan (layaknya atasan di kantor).
Oleh sebab itu, ungkapkanlah segala sesuatunya, khususnya untuk hal-hal yang menjadi uneg-uneg atau kecurigaan kita akan sesuatu, dengan baik-baik, tanpa harus mengecam, tanpa harus menghina, atau mengeluarkan kata-kata mengumpat.
Pada situasi atau kondisi tertentu, kesalahan memang sangat mungkin saja terjadi. Tapi itu bukan berarti, kita dapat dengan bebas menyatakan bahwa kesempurnaan dan nilai-nilai kebenaran itu seutuhnya ada pada diri kita. Janganlah berpikiran egois dehhh...
Yup, sikap egois adalah musuh terbesar dari hubungan cinta kasih yang sedang dibina. Ketika sikap egois mengemuka, maka diri ini hanya ingin menguasai, bukan menerima adanya kekurangan yang ada pada diri pasangan kekasih hati kita.
Kita harus menyadari, bahwa setiap hubungan cinta kasih yang mengalami keretakan dan berakhir dengan putusnya hubungan cinta kasih, selalu diawali oleh adanya suatu masalah, suatu perbuatan curang (selingkuh) atau adanya suatu pola pemikiran yang tidak lagi sejalan, dimana semua keadaan itu, tidak lagi dapat dikomunikasikan secara baik-baik dengan kekasih.
Artinya, selain diputuskan oleh kematian, tidak ada satu pun cerita putus hubungan cinta kasih yang terjadi secara baik-baik, karena semua peristiwa putus hubungan pacaran (atau suami-isteri) pasti karena ada penyebabnya. Oleh sebab itu, kedewasaan sikap diantara masing-masing pihak yang menjalin hubungan cinta kasih, perlu dijaga.
Dalam menjalin ikatan cinta kasih, adanya sifat saling melengkapi kekurangan yang ada pada diri pasangan kekasih hati kita, merupakan sebuah kondisi yang seharusnya kita ciptakan TANPA HARUS DIMINTA. Ini bukanlah sebuah kondisi yang dapat ditawar-tawar, namun sebuah kondisi yang sepatutnya kita bangun sejujurnya, setulusnya, dan sebaik-baiknya, dengan kekasih hati kita.
Percaya deh, apabila kita biarkan sikap egois selalu hadir untuk menciptakan suasana seperti yang kita inginkan, maka pada sisi yang lain (yaitu sisi diri kekasih hati kita), api cinta itu dapat perlahan-lahan padam. Hanya menghitung waktu saja, sepertinya.
Siapa sih, yang ingin dikekang dengan hanya diijinkan mengatakan kata "ya" tanpa pernah ada sekalipun kesempatan untuk mengatakan "tidak" sebagai sikap tidak setuju? Tidak ada, karena setiap orang punya suara hati dan batasan pemikiran logis.
Mengkritisi, boleh, mengekang, jangan. Memberi anjuran, ya, boleh sekali. Tapi aktif melarang-larang, sebaiknya jangan. Bila kita coba untuk mengekang dan aktif mengucapkan kata larangan, itu sama artinya kita semakin membangun tembok rasa tidak nyaman pada diri kekasih hati kita.
Kita tidak mempunyai hak untuk mengekang atau melarang. Hak yang dapat kita nyatakan atau apresiasikan kepada pasangan kita adalah menjadikan dirinya tampil lebih baik dan lebih merasakan hakekat hadirnya cinta di hati kita dan juga dirinya. Pada kedua hal itulah ekspresi cinta benar-benar nyata bisa dirasakan.
Apabila memiliki rasa tidak puas, buatlah diri pasangan kekasih hati kita untuk memahami dengan cara-cara yang sederhana, bahwa kita tidak puas dengan sikapnya. Jangan pernah menjadi "buas" karena ada rasa tidak puas pada sikap atau dalam diri pasangan kita.
Well, cinta mungkin juga bermasalah. Apabila itu terjadi, kita tidak memiliki pilihan yang lain, selain merundingkan jalan terbaik atas kondisi itu, agar tidak ada upaya untuk menyakiti, tentunya, dengan mengatasnamakan cinta. Berhenti sejenak... pikirkan masak-masak... dan nyatakan dengan bijak.
Mengedepankan sikap emosional, tidak akan pernah berhasil menyelesaikan masalah. Demikian pula saat hubungan cinta kasih sedang ada masalah, emosi bukanlah pilihan tepat untuk mendamaikan suasana hati.
Ingatlah selalu, bahwa tiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki keadaan pada saat ada masalah menaungi cinta. Dalam kelebihan yang kita miliki, pasti kita memiliki kekurangan. Oleh karena cinta, kekurangan itu dapat tertutupi dengan kelebihan yang dimiliki oleh pasangan kekasih hati kita. Gunakan itu untuk tampil lebih baik, bukan untuk menekan lebih keras.
Memang, segala sesuatunya itu, ada saatnya. Namun, ketika cinta adalah dasarnya, kita bisa menjadi bintang ditengah gelapnya malam, apabila kita biarkan cinta itu menjadi "malaikat" yang menyejukkan setiap kasih yang melingkupi diri dan hati kita.
So, jangan biarkan masalah menyandung adanya cinta didalam hati dan diri kita. Lakukan segala sesuatunya dengan didasari oleh cinta.
.Sarlen Julfree Manurung
tulisan ini telah diposting pada tanggal 5 Februari 2011.
http://www.facebook.com/notes/juvee-manroe/jangan-biarkan-masalah-menyandung-cinta/160895460626836Tak Selamanya Diam Itu Emas
Beberapa bulan yang lalu, seorang teman mengisi kolom status facebook miliknya dengan kata-kata berikut :
"Mendengar, mencerna kata demi kata, merenung dan berpikir, hingga mendapatkan kesimpulan... lalu menindaklanjuti... naaaah... yang terakhir ini yang paling susah..."
Yaa... bicara teori saja, memang mudah. Lancar-lancar saja mulut kita bicara. Namun tidak demikian halnya dengan mengupayakan adanya suatu formulasi jawaban yang tepat guna serta tepat sasaran, terhadap masalah yang sedang kita hadapi. Kita cenderung mati gaya, bahkan mungkin diam saja, karena tidak mampu berbuat apa-apa.
Sering kali, kita menganggap memecahkan suatu masalah, bukanlah perkara mudah. Kenapa bisa ada pemikiran seperti itu ya?
Karena, pada saat kita merenung, kita malah larung dalam tangis, meratapi adanya masalah sebagai nasib yang membuat kita susah, bukannya berusaha mencari jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapi.
Inisiatif diri seakan tidak ada, karena belum apa-apa sudah mengatakan tidak siap, padahal belum “mencoba melangkah” untuk menemukan jalan pemecahan masalah. Alasannya, tidak percaya diri, atau takut mendapat malu. Takut salah.
Ada sederetan nada-nada sumbang yang bergetar namun tak mampu terucapkan. Demikian pula dengan sikap kita, nyaris tak bergeming, seperti sudah mati rasa. Jangankan mengambil tindakan, bahasa tubuh kita saja sudah menunjukkan sikap orang yang pesimistik dan penuh dengan keraguan, seperti sikap orang yang tidak siap menerima tantangan.
Perlahan-lahan mundur sebelum bertempur. Tak punya nyali atau keberanian diri mengambil sikap. Kita seperti orang “bermasalah” karena tidak mampu keluar dari masalah kita sendiri.
Dalam kesempatan berbeda, menasehati orang lain, kita jagonya. Akan tetapi, kita justru mengalami kesulitan saat harus menjalankan suatu rencana aksi, sebagai upaya nyata dalam menyelesaikan permasalahan yang sedang kita hadapi. Bisanya meminta / menanti bantuan orang lain saja.
Ragam persoalan di dalam hidup ini, baik susah atau mudah, terkadang membuat kita seakan berada dibawah bayang-bayang ketakutan tak mampu untuk berbuat sesuatu. Padahal, kita sendiri belum melakukan apa-apa (mencoba berbuat sesuatu), kita sendiri belum menyampaikan pandangan kita.
Terkadang, meskipun sudah mencoba berbuat sesuatu seatraktif mungkin, dan sudah pula mencoba untuk mengkomparasi sejumlah teori pemecahan masalah (katanya, biar tidak salah membuat dasar pertimbangan), akan tetapi tetap saja kita merasa terintimidasi oleh keadaan, bingung atau merasa tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri.
Alasannya, karena kita tidak tahu aral mana yang akan dipilih untuk dijalani, meskipun semua arah pemecahan masalah yang kita bangun, sudahlah tepat.
Beberapa orang bahkan sampai jatuh sakit atau mengalami stress berat, karena tak kunjung berhasil keluar dari masalah yang sedang dihadapi. Karakter dan perilaku seseorang memang bisa berubah apabila terlalu lama berada dalam tekanan. Minimal, ritme kehidupan tak lagi sama.
Tersesat dalam kebimbangan, membuat peluang untuk kembali menjadi orang yang merdeka dari masalah, terhenti seketika. Seakan ada yang mengganjal dan membuat langkah terhenti, utamanya, kalau masalah yang sedang dihadapi, bertutur tentang : masa depan, hubungan asmara dengan orang lain, atau kemampuan dan kesanggupan diri untuk dapat survival dalam hidup ini.
Hidup penuh dengan masalah, memang bukanlah impian. Namun hidup tanpa ada masalah, adalah keadaan yang tidak membuat kita belajar, mengetahui cara menyikapi atau menyelesaikan masalah dalam hidup ini.
Pada dasarnya, masalah merupakan “model” pembelajaran hidup terbaik, jika kita ingin melihat dan mengetahui bagaimana realita kehidupan dan tatanan / perspektif keadaan yang tidak terbayangkan sebelumnya, atau ketika kesalahan harus segera ditangani agar tidak menimbulkan dilematika baru di kemudian hari.
Apalagi kalau seseorang telah menghadirkan anggapan : tidak semua permasalahan bisa diselesaikan dengan mudah, dan tidak semua upaya penyelesaian masalah, bisa dilakukan secara tuntas.
Oleh sebab itu, setiap permasalahan harus segera diselesaikan agar tidak menjadi lebih complicated atau menghadirkan masalah baru. Jadi, jangan pernah kita membiarkan masalah berlarut-larut tidak terselesaikan, dan menghantui benak pikiran kita. Diam itu, tidaklah emas.
Sebuah pepatah lama mengatakan : Manusia bisa karena biasa. Mungkin kalau ingin diterjemahkan secara bebas, pepatah itu bisa diartikan, sebagai : pengalaman merupakan guru yang berharga.
Demikian pula halnya dengan adanya keberanian mengemukakan pendapat atau pandangan, yang dinyatakan sebagai upaya memecahkan masalah. Jika kita tidak pernah ragu untuk menyampaikan pendapat atau pandangan, maka semakin cepat pula kemampuan daya nalar kita untuk mencari, menemukan, dan memformulasikan jawaban dari sebuah pemecahan masalah.
Sedangkan pada sisi yang lain, terlalu sering seseorang mengatakan tidak mampu, tidak berani, atau tidak siap, selain bisa menimbulkan stigma negatif orang lain, juga bisa mempengaruhi sikap agresif seseorang untuk dapat cepat bertindak menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya. Merendah boleh-boleh saja, tapi membodohi diri sendiri, sebaiknya jangan.
Oleh sebab itu, menghadirkan pola berpikir kritis, merupakan sebuah kebutuhan, karena sikap kritis akan membuat perhatian seseorang, sepenuhnya tertuju pada upaya penyelesaian masalah secara tuntas.
Selain itu, kita juga harus menumbuhkan keberanian diri untuk menghadapi problema kehidupan, dengan menyampaikan opini, saran dan masukan, pandangan, atau bahkan, sebuah konsep pemecahan masalah.
Sebuah keberanian untuk menjawab permasalahan yang sedang dihadapi, harus kita hadirkan. Manfaatnya, keberanian akan mendorong diri kita untuk bisa menunjukkan segenap potensi yang kita miliki, dengan mengeksplorasi segenap pengetahuan dan kemampuan diri, pada saat berada diantara kuatnya tekanan permasalahan yang sedang kita hadapi.
Selain untuk menunjukkan kualitas diri kita, juga untuk menguji kemampuan kita dalam mengurai dan memecahkan masalah, dengan mengeksplorasi segenap pengetahuan dan peningkatan kinerja kita.
Apabila kita dapat menyelesaikan suatu masalah dengan baik, sama artinya kita tidak membiarkan adanya tekanan yang datang dan menghantui diri serta pikiran kita. Sebuah tekanan yang justru membuat kita lemah dan terlihat lemah, yang datangnya dari cibiran mulut orang lain atau dari bayang-bayang perasaan yang tak menentu.
Ketika sebuah keberhasilan berhasil kita capai, akan menghadirkan kebanggaan pada diri sendiri. Dan ketika kita bisa menunjukkan diri, mampu menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi, maka keberhasilan itu akan memberikan nilai tambah bagi diri kita sendiri di mata orang lain.
Jadi, tidak akan ada kebuntuan suasana dan hati yang nelangsa karena masalah yang menggantung, sebagai akibat dari berlarut-larutnya upaya penyelesaian masalah karena kita memilih diam seribu bahasa. Kita harus bisa bersikap fleksibel, tidak hanya terpaku. Ada kegairahan dan daya upaya untuk membuat diri kita terbebas dari masalah.
Well, berdiam diri saja, tidak membuat kita bisa memecahkan masalah.
God give us a smart brain, two ears, and one mouth. With all of that, you can do something, before you talk too much. Inspiring and motivating yourself with some of good idea’s, not to be silent. Make your body move. Be agressive.
After that, you must try, try again, try again, and again, and again. You must believe that you can make everything is gonna be alright (again). That is one of the key of a success (ada satu kemauan, ada kegigihan, ada rasa percaya diri, ada semangat tinggi serta ada keberanian... untuk bicara).
You must do something, karena tidak selamanya diam itu emas. Tidak selamanya...
.Sarlen Julfree Manurung
http://www.facebook.com/note.php?note_id=154553334594382
What Is Your Purpose?
Perbincangan tersebut menarik untuk disimak, selain karena dipandu oleh 2 orang penyiar Radio HardRock FM Jakarta, Ayu Dewi dan Iweth Ramadhan, topik tersebut dibahas oleh Rene Suhardono, seorang CareeCoach, trainer dan penulis buku-buku best seller, yang karya tulisannya banyak mengangkat sisi humanisme serta upaya pengembangan karir.
Keberhasilan hidup dapat lebih cepat dicapai apabila setiap orang telah terlebih dahulu menentukan seperti apa tujuan hidup (purpose) yang ingin dicapai saat melangkah menapaki hari-hari kehidupan yang penuh tantangan.
Why we need to make a purpose in life?
Pada dasarnya, menetapkan tujuan hidup membuat kita memiliki konsep serta gambaran yang jelas, ingin dibawa ke mana hidup ini mau diarahkan. Harapannya, jalan hidup yang terkonsep, membuat kita tidak akan menyimpangkannya kekiri atau kekanan, atau dilalui dengan asal-asalan.
Dalam hal ini, seseorang yang memiliki tujuan hidup, akan lebih cepat menggapai cita-cita, karena seseorang yang telah menetapkan tujuan hidup, tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna atau membawa manfaat, sehingga upaya memenuhi target pencapaian tujuan hidup, dapat segera terealisasikan.
Arti penting lainnya, dengan menetapkan suatu tujuan hidup, kita telah mendorong agar hidup kita menjadi jauh lebih bermakna dan membawa arti, tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga bagi orang lain.
Hidup yang memiliki arah akan membuat hari-hari kita penuh gairah (passion), yaitu adanya suatu keinginan, tekad, dan semangat agar segenap langkah yang kita tempuh, mengarah pada upaya mencapai tujuan hidup.
Setiap orang memiliki purpose-nya masing-masing. Purpose dari pendiri Microsoft adalah : setiap orang memiliki satu PC (personal computer). Purpose Barack Obama sebagai Presiden adalah : mengembalikan kejayaan Amerika Serikat. Sedangkan purpose dari seorang Rene Suhardono, adalah : membantu banyak orang untuk menjadi diri sendiri, tampil lebih baik atau their ultimate-self.
How about aspiration?
Meskipun sama-sama merupakan bentuk "target" pencapaian jalan kehidupan, namun pada dasarnya, purpose memiliki alur (proses) yang lebih panjang dibandingkan dengan alur dari pencapaian aspiration (cita-cita).
Dalam hal ini, purpose bagaikan sebuah target pencapaian yang berlaku seumur hidup. Saat cita-cita telah diraih, sangatlah mungkin kalau purpose masih dalam proses pencapaian.
Kesamaan antara purpose dan aspiration, adalah keduanya sama-sama membutuhkan adanya passion yang berfungsi untuk memacu semangat agar pencapaian dapat seperti yang diinginkan.
Tanpa ada passion, usaha pencapaian purpose atau aspiration, hanya akan jalan di tempat. Selain itu, ketika keduanya telah tercapai, ada rasa bahagia yang melingkupi hati dan hidup ini.
Rene Suhardono mengatakan, ada 2 hal penting yang patut diberlakukan saat seseorang menentukan purpose-nya.
1. Mengetahui dengan baik seperti apakah purpose yang ingin dicapai.
2. Menjadikan purpose sebagai kunci dalam menjalani aktifitas kehidupan.
Warna kehidupan akan terasa lebih indah, apabila masing-masing kita menetapkan adanya purpose sebagai sebuah target yang akan kita jalani, sehingga hidup ini akan lebih memiliki arti dan manfaat, tidak hanya kepada diri sendiri, namun juga kepada orang lain.
So, what is you purpose? Did you already have it?
.Sarlen Julfree Manurung
catatan ini pertama kali diposting pada tanggal 28 Juli 2010.
http://www.facebook.com/note.php?note_id=115785691804480
Belumlah Terlambat (untuk Mengucapkan kata : MAAF)
Yup, ternyata tuduhan itu hanyalah ekspresi kemarahan sesaat, yang dinyatakannya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.
Ketika amarah sedang berkecamuk didalam dada, terkadang (bahkan mungkin sering kali), mulut ini "sangat kreatif" untuk mengucapkan pernyataan-pernyataan yang menyakitkan. Tentu saja, keramaian yang tercipta, untuk membuat hati dan perasaan orang lain terluka, bahkan bila perlu, berlaku sepanjang masa.
Bener banget kalau ada yang bilang : Dalam amarah, ada sederet dosa yang mengekor dibelakangnya.
Menempatkan orang lain dalam posisi bersalah, adalah sebuah kejahatan. Akan dianggap sangat jahat, apabila ternyata pelakunya tahu dan menyadari bahwa tindakan itu adalah perbuatan yang disengaja, untuk tujuan mempermalukan, menjatuhkan nama baik, atau membuat orang lain mendapatkan "hukuman" dari publik.
Kenapa ya, harus menyakiti? Apa gak ada perbuatan benar yang bisa dirupakan?
Terlambat menyadari pernah membuat kesalahan, adalah lebih baik apabila dibandingkan dengan membiarkan keadaan tetap salah, atau tanpa kita sendiri sekali-kalipun mau memikirkan adanya nilai kebenaran dari mengakui adanya kesalahan.
Orang pintar, harus bisa bertindak bijaksana. Seorang terdidik, selayaknya cepat menekap mulutnya saat mengucapkan kata-kata penuh kebodohan.
Jadilah pribadi yang rendah hati, bertindaklah dengan nurani, bukan dalam amarah.
GBU Everybody.
.Sarlen Julfree Manurung
catatan ini pertama kali diposting pada tanggal 5 Agustus 2010.
http://www.facebook.com/note.php?note_id=117641404952242
Kegagalan
Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan, termasuk, seorang balita. Lho, kenapa anak balita termasuk didalamnya? Karena anak balita juga pernah gagal (baca : sering tak berhasil) merayu orang tua untuk dapat memenuhi keinginan mereka, walau sudah menangis dengan disertai jeritan keras.
Bisa dikatakan, yang membedakan kegagalan dari setiap orang adalah tingkat intensitas (seberapa sering mengalami kegagalan) dan bagaimana kegagalan (dampak) bisa mempengaruhi alur kehidupan.
Jadi, jangankan sekedar "merasakan" kegagalan, semua orang di dunia ini pasti pernah mengalami kegagalan. Masalahnya, tidak semua orang siap menghadapi kegagalan.
Anthony J. D'Angelo mengatakan : "In order to succeed you must fail, so that you know what not to do the next time."
Sebuah keberhasilan dapat diraih apabila seseorang terlebih dahulu pernah mengalami kegagalan sehingga dirinya tahu apa yang harus dilakukan di masa yang akan datang agar tidak lagi gagal, terutama apabila kita menempatkan kegagalan yang sudah pernah kita alami menjadi point of value yang akan membuat kita lebih mempersiapkan diri agar bisa tampil lebih baik (alias, tidak gagal lagi).
Keberhasilan yang diraih setelah mengalami kegagalan, terjadi apabila kita sendiri mau belajar dari kegagalan itu sendiri. Dalam hal ini, kita tidak membiarkan rasa kecewa atau perasaan tertekan karena pernah gagal, tetap bernaung dalam diri kita. Oleh karena kegagalan yang pernah kita alami, kita seharusnya lebih memacu diri untuk dapat menghasilkan yang terbaik atau benar, dengan tidak mengulangi lagi hal-hal yang telah membuat diri kita gagal.
Kenapa bisa terjadi kegagalan?
Kegagalan terjadi karena : kita tidak secara konsistensi menjaga / menerapkan segenap langkah, rencana, atau aturan main yang ada, agar tetap berada pada rel-nya.
Sebuah kegagalan juga bisa terjadi karena kita tidak menerapkan prinsip-prinsip yang benar karena bertindak lalai, ada rasa ragu atau kurang percaya diri saat berupaya menemukan jalan keluar penyelesaian masalah.
Dalam kondisi tertentu, kegagalan juga dapat terjadi karena seseorang tidak siap untuk menghadapi atau mengantisipasi adanya suatu kondisi maupun hal-hal tertentu yang tidak dibayangkan sebelumnya, sehingga akhirnya menyebut tindakan tidak siap dan tidak antisipatif yang membuat dirinya harus mengalami kerugian tersebut sebagai sebuah kegagalan. Selain itu, kegagalan juga bisa terjadi karena kita tidak cermat (kurang hati-hati) dalam bertindak.
Apakah kita harus mengalami kegagalan?
Tentu saja tidak. Namun terkadang, meskipun kita telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, atau berusaha untuk bisa mengantisipasi serta memperhatikan hal-hal yang mungkin saja bisa membuat diri kita mengalami kegagalan, kegagalan bisa saja terjadi, karena tidak semua hal bisa kita antisipasi.
Langkah yang bisa kita tempuh, bersikaplah hati-hati, tidak gegabah, dan berusahalah untuk pro-aktif mencapai puncak keberhasilan seperti yang kita inginkan, serta bijaksanalah dalam bertindak dan dalam membuat keputusan.
Pernah gagal itu bukanlah sebuah kesalahan. Namun ada baiknya lagi kalau kita berusaha agar tidak pernah mengalami kegagalan, atau bahkan berulang kali mengalami kegagalan dalam hidup ini. Positive thinking ajah.
Oleh sebab itu, kegagalan yang pernah terjadi, sebaiknya hanya diposisikan sebagai sebuah peristiwa yang berlaku situasional semata, dan tidak dibiarkan terpendam menjadi "mimpi buruk" yang terus membayangi alur perjalanan hidup.
Kegagalan dalam hidup memang merupakan sebuah kondisi dan konsekuensi yang tidak ingin kita temui dalam kehidupan kita. Akan tetapi, kita jangan memandang kegagalan sebagai sebuah kondisi kalah yang tak mungkin membuat kita menang di kemudian hari.
Jangan pernah takut gagal, karena kegagalan merupakan salah satu bentuk pelajaran berharga untuk kita bisa meraih kesuksesan / bersinar terang di masa datang, dengan memperbaiki segenap kesalahan, dan sebisa mungkin, tidak mengulangi lagi kesalahan yang pernah terjadi. Belajarlah kepada para penemu.
Bagaimana dengan : gagal dalam hubungan cinta kasih?
Sama seperti kegagalan dalam berusaha atau menyelesaikan suatu pekerjaan, dalam jalinan hubungan cinta kasih, juga bisa terjadi kegagalan. Penyebabnya : hilangnya kepercayaan, kurang komunikasi, dan adanya sifat / sikap yang kurang berkenan di hati.
Prinsip untuk menjaga hati, pikiran dan juga sikap, bukanlah sebuah pilihan dalam membina hubungan cinta kasih, akan tetapi bagian dari ketentuan dasar dalam menjalani kehidupan, karena apa yang kita inginkan di dasar hati, apa yang kita pikirkan dalam benak pikiran kita, serta apa yang kita lakukan selama terikat hubungan kasih dengan orang lain, tidak menjadi batu sandungan bagi kelanggengan hubungan, dimana kegagalan kita dalam menjaga hati, pikiran, dan hati kita, akan membuat kita gagal menjaga hubungan cinta kasih yang ada serta telah terbina.
So, what is the last statement?
Kehidupan memang penuh dengan pernak-pernik, salah satunya, kegagalan dalam hidup. Tak dapat dipungkiri, kegagalan merupakan bagian dari realita kehidupan. Akan tetapi, itu semua hanyalah bagian dari kisah hidup, bukan alur hidup, asalkan kita mau belajar dari kegagalan yang pernah kita alami.
Paculah diri untuk memperbaiki keadaan, dan jangan hanya meratapinya saja. Akan ada pintu gerbang yang terbuka untuk kita lalui, meninggalkan segenap kegagalan di belakang sana, berganti dengan keberhasilan hidup, karena keberhasilan hidup bukanlah mimpi setelah kita pernah gagal.
Sebuah kegagalan, mungkin atau boleh-boleh saja terjadi. Namun akan lebih baik lagi kalau tidak pernah terjadi. Kalau pun pernah terjadi, janganlah kita menjadi lemah, karena masa depan tetap ada dan tidak akan punah, meskipun kita pernah gagal.
Have a nice day.
.Sarlen Julfree Manurung
Aku Ingin Bahagia (Inspirasi Menggapai Kebahagiaan Hidup)
Banyak orang yang hingga masa tua usia mereka, masih merasa belum mampu mencapai kebahagiaan hidup, tidak hanya untuk bisa menjalani hidup bahagia bersama orang-orang yang mereka kasihi, namun juga untuk bisa menggapai kebahagiaan hidup bagi diri mereka sendiri.
Dalam benak pikiran sejumlah besar orang, menggapai kebahagiaan hidup bagaikan sebuah mimpi yang tak pernah usai karena terasa sulit untuk diwujudkan, meskipun telah dilakukan berbagai upaya bisa menggapai impian (yaitu : hidup bahagia).
Cerita kehidupan yang bertutur tentang hidup bahagia, hanyalah sebatas angan. Seseorang seakan “dipaksa” untuk menerima dengan sikap pasrah segenap alur kehidupan yang telah tercipta / dijalani, yaitu dengan membangun opini publik (menyatakan hidup mereka bahagia), agar perasaan “belum merdeka” dari berbagai tekanan hidup, tidak nampak dan menjadi soroton atau bahan perbincangan orang lain.
Mereka seakan-akan sudah cukup puas dengan kualitas hidup maupun kemampuan ekonomi yang “apa adanya” saja. Sedangkan sejumlah orang lainnya, justru aktif menutupi segenap keadaan yang tidak menentu agar jalan kehidupan mereka “terlihat cantik”, meskipun hanya diluarnya saja.
Pada sisi yang lain, tidak sedikit orang yang justru beradaptasi dengan cerita kehidupan yang penuh dengan sandiwara agar suasana hati dan kondisi hidup mereka yang sesungguhnya tidak sepenuhnya berbahagia (atau ternyata memang benar-benar tidak bahagia) serta telah mengganggu / menyusahkan hati dan pikiran mereka, agar tidak terlihat orang lain, seakan-akan segala sesuatunya baik-baik saja.
Kedua keadaan tersebut tentu saja bukanlah suatu keadaan yang benar-benar ingin mereka jalani. Hidup yang penuh dengan sandiwara atau membohongi diri sendiri, mereka lakukan / jalani agar mereka tidak mendapatkan malu dihadapan orang lain, khususnya dari orang-orang yang mengenal mereka.
Tidak salah kiranya kalau kemudian disebutkan, hidup yang berbahagia merupakan bagian dari pilihan jalan hidup bagi setiap insan manusia, tanpa terkecuali.
Hidup yang berkembang, terus bergerak maju / mengalami peningkatan, yang ditandai dengan adanya sejumlah mimpi yang terwujud, merupakan sebuah keadaan yang seharusnya terjadi dalam kehidupan.
Akan tetapi, bagi sejumlah orang, keadaan tersebut sulit untuk diwujudkan / dirasakan, sehingga pada akhirnya mereka menghadirkan berbagai alasan yang dianggap dapat membenarkan situasi / keadaan yang sesungguhnya tidak ingin mereka lalui atau mereka rasakan saat ini.
Inspirasi kemajuan hidup hanya berlaku sebagai victim, karena tak mampu diterjemahkan, dikelola serta diolah untuk bisa menjadi sebuah victory (keberhasilan hidup yang mendorong terciptanya kebahagiaan hidup).
Padahal, keadaan tak mampu berbuat lebih, hanya akan menghadirkan pandangan-pandangan skeptis orang lain semakin mengemuka, layaknya sebuah ungkapan lama yang mengatakan : “Kalau segenap usaha mereka bisa membuat mereka meraih kebahagiaan hidup, kenapa Anda tidak bisa melakukan hal yang sama?”
Sebuah keberhasilan hidup adalah sesuatu hal yang harus dikejar dan diproyeksikan untuk bisa menjadi kenyataan. Oleh sebab itu, segenap daya upaya untuk menggapai kebahagiaan hidup, tidak diletakkan sebagai sebuah beban, namun sebagai sebuah proses perjalanan kehidupan yang memang harus dilalui.
Apabila ingin merasakan kebahagiaan hidup, buang jauh-jauh segenap sikap pesimis dan tetap terlena dengan keadaan yang tak menentu, dengan do something.
Dalam kerangka berpikir sederhana, adanya sejumlah hambatan ketika ingin meraih kebahagiaan hidup, selayaknya diterjemahkan sebagai : you need to work hard and must have planning for your life.
Menghadirkan resolusi kehidupan (yang diusahakan agar bisa terwujud) dalam periode waktu tertentu, merupakan sebuah langkah tepat, terutama untuk menepis adanya anggapan : kemajuan hidup hanya berlaku bagi orang-orang tertentu saja. Awali dengan menghadirkan resolusi-resolusi sederhana, yang secepat mungkin bisa diraih, hingga pada akhirnya membuat suatu resolusi kehidupan dengan target : tergapainya suatu puncak pencapaian tertinggi.
Ubahlah dimensi pemikiran yang hanya terbatas dengan pada sikap cukup puas dan pasrah menerima keadaan sekarang, akan tetapi tetap terus menghadirkan sebuah tekad (komitmen diri) untuk hidup maju, dan tak berhenti membangun serta memompa rasa percaya diri, dimana kedua hal tersebut, bisa memacu semangat serta etos kerja dalam menggapai mimpi, cita-cita, serta harapan.
Hindari adanya sikap iri yang bisa menggelapkan mata hati, namun kembangkan keinginan untuk bisa membangun diri agar dapat tampil lebih baik, dengan melihat / mencontoh upaya-upaya terukur dari orang-orang yang telah berhasil dan hidupnya dipenuhi oleh rasa bahagia.
Sedangkan pada sisi yang lain, kebahagiaan hidup juga dapat diraih apabila kita dapat mengembangkan sikap toleransi dan menghargai orang lain, sehingga kita tahu, sebuah iklim kebersamaan yang dibangun secara sehat, akan mampu menghadirkan kebahagiaan hidup seperti yang diinginkan.
Namun, hal yang paling penting untuk dilakukan agar diri ini dapat berbahagia : berusahalah untuk dekat pada TUHAN, karena TUHAN adalah sumber inspirasi kehidupan yang bisa menghadirkan kebahagiaan hidup dan rasa sukacita yang tak terkira indahnya.
Kesuksesan memang tidak terjadi dengan sendirinya, akan tetapi dilalui melalui tangga pencapaian keberhasilan hidup secara berjenjang, yang bisa dicapai apabila setiap insan manusia tak jemu-jemu berdoa pada TUHAN dan bekerja keras untuk menggapai impian, yaitu merasakan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya.
Menggapai kebahagiaan hidup memang membutuhkan kerja keras. Oleh sebab itu tidak salah kiranya kalau dikatakan, segenap upaya menggapai kebahagiaan hidup adalah sebuah pilihan, karena kebahagiaan hidup adalah sebuah proses yang tercipta karena kita memiliki keinginan kuat untuk hidup bahagia dengan bekerja keras dan mengembangkan sikap toleransi, melupakan segenap ego serta kekerasan hati.
.Sarlen Julfree Manurung
Antara Gunting, Jarum, dan Benang (Memaknai Sebuah Persahabatan)
Dalam blog pribadinya, seorang teman saya menulis sebuah catatan kecil yang menarik untuk disimak dan menjadi pembelajaran hidup bagi banyak orang, terutama dalam merangkai tali persahabatan dengan orang lain. Adapun catatan kecil teman saya itu, isinya :
Sahabat itu bukan berjalan seperti gunting
meski lurus tapi memisahkan yang menyatu
tapi sahabat itu berjalan seperti jarum beserta untaian benangnya
meski menusuk & menyakitkan
tapi menyatukan yang terpisah
Kalau dipikir-pikir, benar juga kata-kata teman saya dalam catatan kecilnya itu. Fungsi gunting memang untuk memotong. Semua benda yang tadinya menyatu, bisa terpisah-pisah menjadi bentuk potongan setelah dipotong dengan menggunakan gunting.
Bagaimana dengan jarum?
Meskipun kecil, apabila terkena kulit, ujung sebuah jarum bisa membuat luka atau menimbulkan rasa sakit. Namun, ketika sebuah jarum disatukan dengan seuntai benang, jarum itu justru bisa kita pakai untuk menyatukan benda-benda yang terpisah atau robek.
Dalam lingkup pergaulan, selayaknya kita menjadi pribadi yang dapat menyatukan, bukan memisahkan. Seorang sahabat seharusnya menciptakan harmoni dalam dinamika kehidupan pergaulan, dan bukannya menjadi sumber perpecahan, permusuhan, atau pihak yang membakar sekam ditengah-tengah keriuhan sebuah peristiwa.
Sahabat yang baik, adalah pribadi yang perduli dengan kekisruhan suasana hati sahabatnya, dimana sikap perduli ditunjukkan dengan upaya membangkitkan gairah hidup, bukan menciptakan bara dalam hati sahabat yang sedang gundah.
Ketika sedang memasuki ruang gelap, seorang sahabat hadir membawakan pelita agar sahabatnya tidak tersesat atau tersandung benda yang tergeletak di lantai.
Nasehat seorang sahabat dinyatakan sebagai tanda kasih, bukan untuk menjerumuskan atau membuat sahabatnya semakin tertekan oleh masalah, atau bahkan mendapatkan masalah baru.
Ada banyak rangkaian kata-kata yang bisa dibuat untuk mendefinisikan arti persahabatan, bagaimana persahabatan bisa membawa arti dan serupa sebongkah rona sukacita dalam kebersamaan.
Dinamika kehidupan dalam persahabatan sejati, memang tidak selalu dilalui dalam suasana harmonis. Ada kalanya menjengkelkan, ada saatnya menyebalkan. Tak jarang pula, seorang sahabat lancar mengucapkan kata-kata yang menyakitkan untuk maksud menyadarkan.
Amarah juga dapat timbul. Namun itu semua tidak untuk menghadirkan satu keinginan, yaitu menghancurkan hidup sahabatnya.
Seperti halnya jarum dan benang, seorang sahabat selayaknya merangkai kembali lembar-lembar yang terpisah atau robek hingga menyatu kembali, sehingga terbentuk sebuah lembar baru dalam kesatuan utuh.
Haruskah kita bersikap layaknya fungsi sebuah gunting dalam persahabatan, yang memisahkan dan bukan menyatukan?
Mungkin akan ada yang berteriak : "Terkadang seorang sahabat perlu bersikap sebagai gunting bagi sahabatnya agar sahabatnya itu tidak terjerembab pada masalah besar".
Ya, memang benar, tapi hanya saat sahabatnya sedang menghadapi masalah yang bisa membuatnya jatuh dalam lembah kenistaan atau dosa. Saat itulah seorang sahabat bisa bertindak sebagai gunting dalam tali persahabatan dengan sahabatnya.
Selain itu, janganlah kita berperilaku sebagai gunting, sebab seorang sahabat hadir : bukan untuk menghancurkan, bukan untuk menyesatkan ataupun memecah rasa hingga menjadi semakin bimbang.
Kesetiaan seorang sahabat akan terlihat ketika sahabatnya sedang memiliki masalah. Apakah dirinya akan turut merasakan kepenatan dan rasa bimbang sahabatnya, atau malah menjadi benalu yang ingin merusak?
Jadilah sahabat yang bisa merangkum kembali lembar-lembar yang terpisah dalam hati sahabatnya, seperti halnya fungsi jarum dan benang. Hindari diri untuk memilih menjadi gunting, sebab pilihan sikap itu, tidak akan melanggengkan persahabatan.
Sekali lagi, jadilah sahabat yang baik.
.Sarlen Julfree Manurung
LOVE, A Word for Everybody
"Perjalanan cinta sepasang anak manusia, tak pernah ada yang dapat menduganya."
- NI LUH SEKAR ( Pemimpin Redaksi Majalah dewi)
Banyak orang tua (khususnya para orang tua yang memiliki anak perempuan) dilanda rasa cemas oleh isi pemberitaan media massa yang menyebutkan : pada saat ini, tindak kekerasan dalam masa pacaran (abusive dating relationship) di kalangan anak muda, begitu tinggi.
Apabila melihat ekspose berita media massa, para orang tua bahkan tidak menyangka, kalau beragam tindak kekerasan yang terjadi pada diri seorang anak remaja putri atau perempuan usia muda beberapa tahun belakangan ini, ternyata banyak yang berawal dari perkenalan dengan memanfaatkan perangkat teknologi yang biasa dipergunakan atau berada di tangan anak-anak mereka.
Isi pemberitaan media ini seakan mengingatkan masyarakat pada kasus pelik yang dihadapi : Marietha Novatriani, Syilvia Russarina, Steffany Adelina, serta Icha Airlangga, yang menempatkan mereka sebagai korban dari sebuah tindak kejahatan.
Mereka hanyalah sebagian kecil dari sejumlah remaja putri dan perempuan usia muda yang dikabarkan telah lama meninggalkan rumah setelah berkenalan serta diketahui pergi bersama teman pria yang belum lama mereka kenal melalui situs jejaring sosial, facebook.
Sejumlah media mengatakan, dalam rentang 6 bulan terakhir, ada lebih 100 remaja putri dan perempuan usia muda mengalami hal yang sama, "dibawa pergi" seseorang yang tidak mereka kenal dengan baik.
Apabila dilakukan penyelidikan lebih jauh, mungkin masih ada banyak perempuan usia remaja dan dewasa muda lain yang memiliki alur cerita sama namun tidak disebutkan dalam pemberitaan media massa karena orang tua atau keluarga besar mereka tidak ingin ada publikasi atas kasus kepergiaan anak-anak mereka dari rumah dengan seseorang yang tidak mereka kenal dengan baik.
Terlihat jelas kalau ada banyak anak-anak remaja putri atau perempuan usia muda di negara kita, yang teramat polos dalam berpikir serta lemah dalam kemampuan mengenali sikap terselubung orang lain yang berusaha mendekati mereka, sehingga mudah tergoda oleh perilaku “berkesan baik” namun sesungguhnya berbalutkan lumpur nafsu.
Cukup menyedihkan rasanya, karena tindakan mereka itu didasari oleh adanya suatu keinginan untuk mendapatkan cinta dari orang lain kepada diri mereka, meskipun perasaan ingin dicintai itu, kelak berasal dari orang yang baru saja memasuki kehidupan mereka.
Kemanakah cinta itu, sehingga mereka harus mencari dalam "tumpukan jerami” dan akhirnya teramat mudah terpana oleh adanya "pesona cinta semu" yang dinyatakan secara gombal oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab?
Mungkin ini yang dinamakan dengan cinta buta : Menerima pernyataan kasih dari seseorang yang belum diketahui apa sesungguhnya maksud dan tujuan dari orang tersebut menawarkan / mengarahkan gairah cinta pada mereka, sedangkan mereka sendiri amat mudah percaya pada orang lain yang teramat gencar mengumbar kata cinta pada mereka, meskipun sesungguhnya mereka sadar, mereka baru saja mengenal orang lain itu.
Hakekat cinta yang mereka terima adalah palsu, dimana kata-kata rayuan dan beragam ungkapan kasih yang dinyatakan, bukan didasari oleh cinta, namun keinginan untuk mendapatkan sesuatu diluar cinta.
Diakui atau tidak, mungkin kita juga pernah mendapatkan (bahkan pernah menerimanya) adanya tawaran sebuah cinta semu yang penuh kepalsuan dari orang-orang yang sesungguhnya hanya ingin mengumbar nafsu dengan mengatasnamakan cinta.
Sangat mungkin pula, kita juga pernah menawarkan cinta semu kepada orang lain. Semuanya itu, adalah bagian dari pesona cinta pada saat mulai ditaburkan. Kita semua butuh menerima atau membagikan rasa cinta yang menggelora di hati kita, meskipun terkadang, kita salah menerjemahkannya.
Kehangatan cinta bisa muncul sebagai sebuah "hadiah" yang tak terduga, sehingga sampai lupa untuk meneliti terlebih dahulu kebenarannya, hingga segenap pesona cinta yang ditawarkan, langsung diterima, meskipun ada kesadaran, bahwa pada akhirnya, kesemuanya itu kelak menghadirkan rasa sesal teramat mendalam.
Cinta itu, milik semua orang. Karena cinta itu, ada di dalam hati. Bisa dirasakan, bisa diungkapkan, dan bisa membuat hidup ini indah, bahkan teramat indah untuk sekedar dilalui.
Mencintai dan dicintai orang lain, merupakan keadaan yang diinginkan oleh setiap orang. Itu adalah sebuah kondisi alamiah.
Tuhan menghadirkan adanya rasa cinta didalam hati manusia, memang bukan untuk menyakiti, namun untuk membawa kebahagiaan hidup, karena cinta itu, adalah sebuah anugerah terindah yang memang dimiliki setiap insan manusia. Cinta, adalah milik semua orang.
Dan ketika cinta mulai bersemi, manusia ingin segera menggapai kebahagiaan, bukan menuai rasa sakit hati, atau menerima hadirnya penyesalan yang teramat dalam.
Oleh karena thema yang begitu indah, telah membuat banyak orang yang percaya tentang adanya cinta pada pandangan pertama. Padahal , apabila ditelusuri lebih jauh, rupa nyata yang sesungguhnya ada, adalah nafsu pada pandangan pertama (Dr. Jill Murray – penulis buku : But I Love Him).
Relationship is not about how much love you have in the beginning, but how much love you build till the end.
Kebesaran makna cinta memang bukan pada saat awal rasa itu ada. Akan tetapi, obyektifitas kekuatan rasa cinta, sesungguhnya merupakan rangkuman beragam ungkapan dan tindakan kasih yang mengalir serta menaungi hati seseorang yang mencinta kepada pasangannya.
Ungkapan cinta mungkin membuai. Perjalanan kisah cinta, memang tak terduga. Namun, segenap pesona cinta yang dinyatakan, bukanlah untuk menempatkan orang lain dalam sebuah keadaan penuh dilema, laksana sebuah masalah yang tak pernah ada kata akhir.
Akan tetapi agar semua orang menyadari, bahwa hasrat mencintai dan dicintai, mengandung nilai-nilai kebersamaan yang dibangun untuk hadirkan harmoni dalam tatanan nilai yang sederajat, terus mengalir, terus terjaga, penuh dengan rasa, dan bukan untuk bisa menyakiti atau berlaku sesaat.
Cinta, adalah sebuah kata untuk semua orang. Wujudnya penuh keagungan, pesonanya penuh dengan ragam ungkapan. Oleh sebab itu, perlakukanlah cinta dengan penuh kejujuran didalam rasa, bukan untuk mencari kesenangan, atau hanya untuk membangun sebuah citra, agar tidak diejek orang.
.Sarlen Julfree Manurung
Menutup Lembar Tahun 2010, Membuka Lembar Tahun 2011
"Untuk meraih kesuksesan hidup, kita harus siap. Harus menabung keletihan dan kelelahan. Kalau perlu, kita juga menabung dengan air mata. Dan yang paling penting, hidup itu harus punya mimpi."
- BENNY WENNAS (Pengusaha - Pemilik Bess Finance)
Tak terasa, hari ini kita telah memasuki hari ketiga tahun 2011. Sepanjang tahun 2010 yang telah kita lalui, ada begitu banyak kenangan, kesan, pesan, serta berjuta-juta cerita kehidupan yang kita temui. Sebagian indah untuk dikenang, dan sebagian lainnya, tidak salah kiranya apabila ingin kita lupakan.
Beragam peristiwa terjadi dalam hidup kita : ada resah dan gelisah (yang kerap kali mengemuka saat sedang menghadapi masalah), ada sebalut rasa penat dan amarah (yang terkadang sulit untuk kita redam), ada sederet rasa kecewa dan kebosanan (yang sulit untuk kita hindari saat terlalu sering mendapat penolakan atau tak punya waktu luang), ada tawa canda (yang mampu ceriakan suasana), ada pesona cinta dan hati yang merindu, ada pengorbanan diantara penerimaan, ada banyak harapan yang tak pernah putus untuk diucapkan, serta ada beragam mimpi yang ingin kita wujudkan.
Ada kalanya hati dan pikiran kita penuh dengan kedamaian. Pada saat berbeda, ada kalanya pula kita mendapati diri kita sedang gundah, penuh ketegangan, atau meratap dalam tangis. Terkadang pula kita merasa tidak ada hal-hal istimewa yang bisa menggugah hati serta rasa. Semua seakan berlalu begitu saja.
Sukacita, dilema, serta elegi, seakan berjalan bersisihan. Semuanya bisa terjadi dalam rentang waktu bersamaan, silih berganti, atau hanya berbeda jedah waktu saja.
Namun, apapun alur cerita “drama kehidupan” yang pernah kita hadapi, semuanya memiliki makna, warna, serta kegairahan tersendiri, sebagai bagian dari rekam jejak kehidupan kita masing-masing. Ada pelajaran kehidupan yang telah kita peroleh.
Ekspresif saja, dinamika kehidupan memang menuntut kita untuk selalu mawas diri, introspeksi diri, serta terus berprestasi, karena kehidupan mendorong kita untuk belajar dari masa lalu, sebagai bagian dari tanggung jawab kita atas kehidupan yang telah kita jalani. Harapannya, kelak, kita dapat menggapai masa depan yang jauh lebih baik lagi, dari waktu ke waktu.
Bagaimanapun, kehidupan telah memberikan kita banyak pengetahuan dan pengalaman hidup. Oleh sebab itu, sudah selayaknya kita dapat bertindak / berpikir cerdas serta bijaksana dalam menyikapi adanya ragam gelombang badai kehidupan.
Kita perlu merefleksikannya karena kehidupan tidak selalu dipenuhi dengan kesenangan (atau selalu sama dengan kondisi yang kita inginkan), akan tetapi mengalir dalam rupa imajiner (keadaan yang tidak selalu pasti terjadi), yang terkadang bisa membuat nelangsa hati dan pikiran kita.
Arti Penting Resolusi Kehidupan
Berbicara soal masa depan yang lebih baik, menjelang malam pergantian tahun, ada baiknya apabila kita telah memiliki resolusi kehidupan yang akan dan ingin kita capai di tahun 2011 ini.
Resolusi kehidupan, adalah sebuah tindakan untuk memotivasi diri sendiri, dengan menghadirkan mimpi berupa target-target pencapaian, yang sengaja dibuat dan ditetapkan, untuk diupayakan agar dapat terwujud di masa yang akan datang.
Menghadirkan suatu resolusi kehidupan, sama artinya kita merencanakan sesuatu hal yang baik bagi diri kita sendiri. Kita menghadirkan komitmen pada diri kita sendiri, untuk kita jalani serta temukan jawabannya. Dalam hal ini, komitmen yang kita buat, merupakan sebentuk kemauan diri untuk maju dan terus berkembang, dimana ada tujuan atau target pencapaian dalam hidup ini.
Ketika hal itu kita lakukan (membuat resolusi), berarti kita telah membangun suatu asa baik bagi diri kita sendiri (setidaknya, sebagai sebuah awal permulaan yang baik). Apabila kita ingin merasakan adanya kebahagiaan hati pada saat melihat hasilnya, sudah selayaknya pula kita bekerja keras untuk mewujudkannya.
Oleh sebab itu, ketika kita telah menentukan adanya resolusi kehidupan yang akan kita perjuangkan, keinginan itu kita nyatakan dengan niat serta tekad bulat (dimana ada kesadaran dalam diri untuk mengupayakan keberhasilannya), agar semuanya itu tidak berakhir dengan sia-sia.
Hal yang menarik dari sebuah resolusi kehidupan, adalah : dalam rangka pemenuhannya, kita tidak terikat oleh waktu. Selama belum terwujud, kita dapat terus mengusahakannya.
Membuat suatu resolusi kehidupan, bisa dimulai dengan mewujudkan keinginan yang tertunda atau belum berhasil kita realisasikan di tahun 2010 kemarin, atau selama beberapa tahun belakangan ini belum diniatkan untuk benar-benar bisa dicapai.
Sebagai contoh : tahun 2011 ini, ingin berhenti melakukan kebiasaan buruk (merokok, berjudi, suka terlambat masuk kerja, menggunakan narkoba, dll.), ingin pindah kerja, ingin membelikan anak sesuatu bila dapat juara, ingin memberikan apresiasi ataupun atensi kepada orang-orang yang telah banyak berjasa atas kelangsungan hidup kita , dan lain-lain sebagainya.
Selain itu, resolusi kehidupan bisa juga dinyatakan dalam bentuk : adanya hasrat serta keinginan diri untuk bisa memiliki benda idaman, mampu berprestasi (dibidang pendidikan, karir, atau penyaluran bakat / hobby), dapat membuka atau menjalankan aktifitas usaha sendiri (berbisnis), atau sejumlah mimpi dan harapan lainnya, dimana kesemuanya itu, selama ini masih baru sebatas angan-angan, atau belum / tidak terpikirkan untuk dijadikan sebagai sebuah resolusi.
Resolusi Kehidupan Sejumlah Orang dan Institusi
Donald Isaac Pandiangan, seorang pengusaha, menetapkan sebuah resolusi kehidupan untuk tahun 2011 ini, dirinya akan berhenti merokok. Niatnya itu sudah bulat, selain karena selama ini selalu tertunda pelaksanaannya, Donald juga ingin memenuhi janjinya pada sang anak, yang memintanya untuk berhenti merokok sebagai hadiah karena mendapatkan rangking kelas di sekolahnya.
Bapak Samsul Huda, membuat resolusi kehidupan : ingin membelikan sebuah laptop untuk adiknya yang sedang mengikuti pendidikan pesantren di Jombang.
Esther Juliana Manoppo, ingin dapat menyelesaikan kuliah sarjananya di tahun 2011. Ryan Madih, berencana untuk bisa membuka usaha counter pengisian pulsa. Gerson Simarmata, ingin memiliki sebuah iPad atau HP dengan teknologi android. Sedangkan Mossa Ambarita, ingin membelikan ibunya seuntai kalung emas sebagai hadiah ulang tahun di bulan Februari nanti.
Resolusi kehidupan penyanyi Mulan Jamilah adalah : meluncurkan sebuah album rekaman lagu baru. Pencapaian yanng ingin diraih oleh Kikan, mantan vokalis sebuah band ternama : kiranya tahun 2011 ini dapat meluncurkan album solo perdananya, yang diperkirakan beredar di pasaran industri musik Indonesia pada pertengahan tahun 2011.
Mantan model sampul majalah, Titi Kamal, berencana untuk melanjutkan aktifitas tour promo album rekaman lagu barunya di sejumlah kota-kota besar di Indonesia, sekaligus membintangi sebuah film dan juga sebuah sinetron. Sedangkan penyanyi Rosa, ingin tahun 2011 dirinya bisa memiliki lebih banyak waktu untuk mengasuh, merawat, dan mendidik anaknya.
Sejumlah orang yang ditanya tentang apa resolusi kehidupan yang ingin diwujudkannya tahun 2011, memiliki jawaban yang sama : mereka ingin menikah tahun ini.
Organisasi Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), menyebut : menyukseskan Jubelium 150 tahun HKBP dengan penuh sukaria dan sukacita, sebagai resolusi yang ingin dijalani pada tahun 2011.
Memaknai Resolusi Kehidupan, Sebagai Inspirasi Kemajuan Hidup
Resolusi kehidupan memang sebuah mimpi. Namun “mimpi” dalam resolusi kehidupan, tidak sama seperti bunga-bunga tidur saat kita beristirahat di malam hari, karena resolusi kehidupan merupakan inspirasi dari hati, yang dieksplorasi dalam benak pikiran untuk dihadirkan sebagai sebuah komitmen diri agar kelak bisa diwujudkan pada satu masa waktu nanti.
Petty S.Fatimah, Pemimpin Redaksi Majalah femina, mengatakan : mimpi yang terkandung didalam resolusi kehidupan, adalah harapan besar yang membuat seseorang bersemangat untuk berjuang. Resolusi kehidupan adalah tantangan, apakah kita seorang pemimpi besar atau seseorang yang tidak berani menatap masa depan dengan berbagai bentuk kemajuan hidup, karena merasa belum tahu bagaimana harus menjalaninya.
Mewujudkan resolusi kehidupan memang terkait oleh waktu namun tidak selalu harus terikat oleh waktu. Kita dapat membangunnya dalam modulasi mimpi secara berjenjang, tahap demi tahapan, selangkah demi selangkah, hingga akhirnya kita berhasil menghadirkan mimpi besar, yang dahulu / selama ini hanya berbentuk mimpi.
Dalam mewujudkan resolusi kehidupan, kita tidak harus terlalu ngotot untuk menjalaninya, namun kita harus selalu bersemangat untuk mengusahakannya.
Oleh sebab itu, dibutuhkan keseriusan untuk merealisasikannya. Ada niat dan daya upaya untuk bisa membuat diri ini berusaha serta bekerja keras, agar pencapaian yang ingin kita raih sebagai resolusi kehidupan, nyata adanya.
Jadi, bisa dikatakan, seharusnya tidak ada suatu resolusi kehidupan yang gagal untuk diraih. Mungkin lebih cocok apabila dikatakan : mengalami hambatan atau belum usai dijalani.
Ada 3 faktor yang membuat segenap resolusi kehidupan yang telah dibuat seseorang, mengalami hambatan atau belum usai untuk dijalani.
Pertama, seseorang itu tidak serius / setengah hati dalam berusaha untuk merealisasikan adanya mimpi yang berhasil diwujudkan dalam hidupnya.
Kedua, adanya upaya paksa orang lain yang membuat segenap daya upaya, usaha dan kerja keras seseorang untuk mewujudkan mimpi, jadi terhenti.
Ketiga, karena Tuhan berkehendak lain atas jalan kehidupan seseorang itu.
Resolusi kehidupan tidak akan pernah bisa terwujud apabila kita tidak menginspirasi diri kita sendiri untuk membangun mimpi masa depan kita, dan menetapkannya menjadi suatu resolusi kehidupan. Kita bisa mulai membangun mimpi itu dari sekarang, dan mulai memperjuangkan keberhasilannya.
Pada saat segenap pencapaian telah kita peroleh, selain menghadirkan kebanggaan diri, merengkuh sebuah hasil usaha yang telah kita upayakan, akan menumbuhkan rasa percaya diri, dan tentu saja, hati yang bersukacita.
Menutup Lembar Tahun 2010, Memulai Tahun 2011
Tahun 2010 telah berlalu. Ada baiknya apabila kita mengucap syukur kepada Tuhan atas segenap pencapaian hidup yang telah kita dapatkan atau yang belum bisa kita realisasikan pada tahun 2010, karena dengan mengucap syukur pada Tuhan, sama artinya kita percaya, bahwa segala sesuatu yang terjadi didalam hidup kita, semuanya merupakan kehendak Tuhan.
Saat ini kita telah memasuki hari-hari di tahun 2011. Kita mulai lembar baru kehidupan di tahun 2011 dengan semangat serta tekad baru, menghadirkan rasa percaya diri, bahwa ada harapan besar untuk meraih kesuksesan dan keberhasilan hidup sepanjang tahun ini.
Dinamika kehidupan memang menuntut setiap orang untuk mampu survival, berusaha untuk meraih kegemilangan hidup, bersaing dengan segenap kemampuan dan daya upaya, serta bekerja keras untuk dapat memenuhi hidup ini dengan aneka keberhasilan hidup.
Realita kehidupan bukanlah imajinasi, namun sebuah kenyataan hidup yang penuh dengan berbagai rupa tantangan serta rintangan. Oleh sebab itu, kita harus bisa menyikapinya dengan bijaksana.
Bukanlah sesuatu hal yang salah kiranya, apabila kita menetapkan tahun 2011, selain sebagai tahun kelanjutan dari perjuangan kita dalam membangun asa, juga sebagai tahun awal kebangkitan hidup kita, mengejar segenap ketertinggalan, memperbaiki yang salah, dan meningkatkan kualitas hidup. Kita yang menjalani kehidupan ini, kita juga yang menyikapi kemana arah kemajuan hidup kita.
Kita dapat membuka jendela masa depan kehidupan kita, dengan menghadirkan sebuah “impian” besar, seperti halnya resolusi kehidupan, dimana ada sejumlah target pencapaian hidup didalamnya.
Saat kita menetapkan resolusi kehidupan, itu sama artinya kita perduli atas kemajuan-kemunduran hidup kita di masa yang akan datang. Kita siap bertanggung jawab atas kelangsungan hidup kita.
Menggapai keberhasilan hidup, bukanlah sebuah mimpi, karena kita dapat mengupayakannya. Kita juga dapat menghadirkan mimpi sebagai resolusi kehidupan, karena bermimpi, bukanlah sebuah kesalahan, dan membuat resolusi kehidupan, bukanlah bunga-bunga tidur.
Apabila kita baru membangun mimpi menggapai keberhasilan hidup, kita dapat belajar dari berbagai bentuk keberhasilan hidup yang telah dicapai orang-orang sukses, yang berhasil dalam karir, atau dalam pengembangan usaha. Adapun segenap keberhasilan hidup yang mereka capai, tidak terjadi secara instan atau terjadi dalam waktu singkat.
Mereka mengawalinya dengan membangun mimpi. Dalam hal ini, mereka tidak menyebut mimpi mereka itu sebagai resolusi kehidupan. Mereka menyebutnya sebagai “ikhtiar untuk menggapai masa depan yang jauh lebih baik”.
Pada dasarnya, mereka berusaha agar jalan hidup mereka dapat berubah, hingga akhirnya mereka benar-benar meraih kesuksesan. Jika mereka bisa, kenapa kita tidak bisa?
Mengutip dari pernyataan yang dibuat Agnes Monica di sebuah majalah wanita : Dream, Believe, then make it Happen. Tidak ada salahnya apabila kita bermimpi, setinggi apapun itu, namun kita harus pula menghadirkan suatu keyakinan, bahwa mimpi kita itu (suatu hari nanti) akan menjadi kenyataan.
Jangan pula kita terlena oleh janji Tuhan bahwa Ia akan menyediakan semuanya bagi kita, melainkan kita harus gigih memperjuangkan mimpi kita itu, kita harus berjuang demi terwujudnya mimpi yang ingin kita realisasikan. Jadikan mimpi kita itu menjadi sebuah kenyataan yang indah, untuk kita dan untuk orang-orang di sekeliling kita.
Kadang orang malas bermimpi karena mereka merasa mimpi mereka terlalu tinggi. Ada juga orang yang menghentikan mimpinya di tengah jalan karena mereka berfikir bahwa mimpinya terlalu jauh untuk bisa digapai. Padahal, apabila mereka mempunyai keyakinan dan usaha yang keras, bukan mustahil mimpi mereka akan menjadi kenyataan.
Jika kita ingin meraih keberhasilan hidup, inilah waktu yang tepat untuk memulainya. Tahun yang baru, selayaknya membawa kegairahan baru serta semangat yang baru. Kita dapat memulainya dari sekarang. Kita bangun mimpi, kita hadirkan suatu resolusi kehidupan, dalam keseriusan sikap untuk menggapai masa depan yang gemilang.
Selamat Tahun Baru. Kiranya Tuhan yang teramat baik, memberkati setiap langkah kehidupan yang akan kita ambil dan akan kita jalani, di tahun 2011 ini.
.Sarlen Julfree Manurung