Friday, February 4, 2011

Belumlah Terlambat (untuk Mengucapkan kata : MAAF)

Seorang teman pernah bercerita, dirinya butuh waktu berbulan-bulan bergumul sebelum akhirnya siap untuk membuat keputusan : mendatangi sahabatnya untuk meminta maaf, karena dirinya telah menuduh sahabatnya itu sebagai dalang dari suatu peristiwa, yang kelak membuatnya harus menghadapi suatu masalah besar.

Yup, ternyata tuduhan itu hanyalah ekspresi kemarahan sesaat, yang dinyatakannya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.

Ketika amarah sedang berkecamuk didalam dada, terkadang (bahkan mungkin sering kali), mulut ini "sangat kreatif" untuk mengucapkan pernyataan-pernyataan yang menyakitkan. Tentu saja, keramaian yang tercipta, untuk membuat hati dan perasaan orang lain terluka, bahkan bila perlu, berlaku sepanjang masa.

Bener banget kalau ada yang bilang : Dalam amarah, ada sederet dosa yang mengekor dibelakangnya.

Menempatkan orang lain dalam posisi bersalah, adalah sebuah kejahatan. Akan dianggap sangat jahat, apabila ternyata pelakunya tahu dan menyadari bahwa tindakan itu adalah perbuatan yang disengaja, untuk tujuan mempermalukan, menjatuhkan nama baik, atau membuat orang lain mendapatkan "hukuman" dari publik.

Kenapa ya, harus menyakiti? Apa gak ada perbuatan benar yang bisa dirupakan?

Terlambat menyadari pernah membuat kesalahan, adalah lebih baik apabila dibandingkan dengan membiarkan keadaan tetap salah, atau tanpa kita sendiri sekali-kalipun mau memikirkan adanya nilai kebenaran dari mengakui adanya kesalahan.

Orang pintar, harus bisa bertindak bijaksana. Seorang terdidik, selayaknya cepat menekap mulutnya saat mengucapkan kata-kata penuh kebodohan.

Jadilah pribadi yang rendah hati, bertindaklah dengan nurani, bukan dalam amarah.


GBU Everybody.


.Sarlen Julfree Manurung



catatan ini pertama kali diposting pada tanggal 5 Agustus 2010.
http://www.facebook.com/note.php?note_id=117641404952242

No comments:

Post a Comment