Friday, February 4, 2011

Jangan Biarkan Masalah Menyandung Cinta

NOTE :

Tulisan ini terinspirasi oleh catatan status dan tulisan note (catatan) teman-teman saya di facebook, yang kemudian menginspirasi saya untuk menulis artikel dengan judul : Jangan Biarkan Masalah Menyandung Cinta.

---

Sepanjang rentang waktu perjalanan hidup kita, sulit rasanya untuk menghindari adanya masalah agar tidak menaungi diri kita. Alasannya, ketika masalah mulai memecah perhatian kita, rasa-rasanya tidak mudah bagi hati serta pikiran kita untuk segera mendamaikan diri dengan suasana tidak nyaman yang tercipta, yaitu pada saat masalah mulai merampas sebagian waktu dan energi kita.

Besarnya beban masalah yang sedang kita hadapi, disadari atau tidak, pada satu masa waktu, dapat pula mengganggu tumbuh kembangnya cinta kasih kita pada seseorang yang kita kasihi. Hal ini terjadi karena diri kita cenderung lebih fokus pada upaya memecahkan masalah yang sedang kita hadapi, dibandingkan memberikan perhatian lebih atas cinta yang ada di hati terhadap pasangan atau kekasih hati kita.

Pada sisi yang lain, cinta sulit mengalir dengan indah, apabila masalah hadir sebagai "batu ujian" dalam hubungan cinta kasih dengan kekasih hati kita.

Cinta yang seharusnya membuat hati dan wajah kita tampak ceria serta berseri-seri sepanjang hari. Namun keadaan akan terasa berbeda, ketika cinta dapat dianggap sebagai perusak harmonisasi hidup, yaitu pada saat masalah mulai menaungi gairah diri untuk dapat mengekspresikan berbagai ungkapan kasih kepada pasangan atau kekasih hati tercinta.

Masalah yang menaungi hubungan sepasang anak manusia yang saling mengasihi, akan menghadirkan : rasa kesal, amarah, gelisah, sedih dan kecewa. Padahal, masalah tak akan pernah usai apabila kita sendiri tidak pernah mencoba untuk menyelesaikannya.

Sepandangan mata aku, pada status atau note (catatan) yang dituliskan oleh sejumlah teman, hal-hal yang menjadi masalah dalam hubungan cinta kasih yang sedang dibina dalam bentuk pacaran (atau bahkan, pasangan suami-isteri) adalah masalah kurangnya perhatian, masalah keuangan, dan masalah pengendalian sikap. Lalu masalah komunikasi (terutama sikap egois dari salah satu pihak) yang terhambat. Kemudian, ada pula yang memaparkan tentang adanya suatu prasangka yang berlebih-lebihan.

Ada yang tersirat, namun ada pula yang "sepertinya" terus terang diucapkan, yaitu sebagain ungkapan suasana hati yang sedang dirasakan.

Apabila ingin dijabarkan lebih lanjut, maka semua masalah yang teman-teman kemukakan melalui status atau note tersebut, pada akhirnya akan bermuara pada sebuah kalimat yang ingin bertanya : haruskah kondisi itu terjadi?

Masalah ada untuk diselesaikan, bukan untuk didiamkan atau untuk dinikmati. So, jangan biarkan problema mengaburkan (bahkan mampu menghanyutkan) makna indah dari keagungan cinta yang ada didalam hati kita.

Kalau ada masalah, bicarakanlah. Sebuah titik temu (kesepakatan untuk saling mengerti, memahami, dan menghargai) tak akan pernah tercipta apabila masing-masing pihak tidak memiliki keinginan untuk bertemu, saling memberikan pandangan dan mendengarkan pandangan yang dapat diterima atau tidak dapat diterima, serta mengkompromikan berbagai kemungkinan yang bisa dikompromikan dengan pasangan / kekasih hati kita.

Apabila ada kesalahan yang terjadi, segeralah minta maaf, jangan tunggu lama-lama. Sebuah kesalahan mungkin saja terjadi sebagai sebuah kealpaan. Namun, kesalahan juga bisa terjadi karena salah satu pihak lebih mementingkan diri sendiri, sehingga melupakan atau lupa dengan keberadaan pasangannya. Kesalahan, dapat pula terjadi karena tidak sengaja melakukannya.

Kesalahan yang dibiarkan berlarut-larut, dapat membebani pikiran dan menimbulkan kekacauan suasana hati. Kita dapat mengelimir kondisi tersebut apabila pihak yang berbuat salah, berani mengucapkan kata maaf, sedangkan pihak yang disakiti oleh adanya kesalahan yang dibuat oleh pasangan atau kekasih hatinya, dapat mengucapkan kata maaf dengan tulus.

Satu kesalahan kecil jangan pula dibesar-besarkan kalau kita tidak ingin masalah kecil itu justru membuat hati dan pikiran kita dipenuhi oleh kesan-kesan buruk atau pola pandangan negatif, yang berkecamuk karena telah tercipta suatu suasana yang penuh dengan ketidak-pastian, hingga akhirnya berkembang menjadi cerita kehidupan yang tidak ingin kita lalui atau hadapi.

Bicaralah baik-baik. Kita tidak selalu dapat menerka, kapan masalah datang. Jadi, sebuah komunikasi merupakan sebuah alur yang seharusnya intens dilakukan, karena dengan mengembangkan suatu pola komunikasi yang baik, maka akan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik dan semakin baik lagi, akan cara pandang serta pola sikap pasangan / kekasih hati kita.

Sebisa mungkin, jangan biarkan diri kita ini mudah untuk mengucapkan kata-kata kecaman atau hinaan...!

Ingatlah..!!! Sebuah kata kecaman atau hinaan, pada dasarnya bisa menimbulkan perasaan ditolak atau dipersalahkan, bukan mengayomi, menghibur atau mendukung. Keberadaan kekasih dapat dimanfaatkan sebagai tempat curhat atau berbagi rasa sayang, bukan memperlakukannya sebagai pembantu (kita bertindak sebagai majikan) atau karyawan rendahan (layaknya atasan di kantor).

Oleh sebab itu, ungkapkanlah segala sesuatunya, khususnya untuk hal-hal yang menjadi uneg-uneg atau kecurigaan kita akan sesuatu, dengan baik-baik, tanpa harus mengecam, tanpa harus menghina, atau mengeluarkan kata-kata mengumpat.

Pada situasi atau kondisi tertentu, kesalahan memang sangat mungkin saja terjadi. Tapi itu bukan berarti, kita dapat dengan bebas menyatakan bahwa kesempurnaan dan nilai-nilai kebenaran itu seutuhnya ada pada diri kita. Janganlah berpikiran egois dehhh...

Yup, sikap egois adalah musuh terbesar dari hubungan cinta kasih yang sedang dibina. Ketika sikap egois mengemuka, maka diri ini hanya ingin menguasai, bukan menerima adanya kekurangan yang ada pada diri pasangan kekasih hati kita.

Kita harus menyadari, bahwa setiap hubungan cinta kasih yang mengalami keretakan dan berakhir dengan putusnya hubungan cinta kasih, selalu diawali oleh adanya suatu masalah, suatu perbuatan curang (selingkuh) atau adanya suatu pola pemikiran yang tidak lagi sejalan, dimana semua keadaan itu, tidak lagi dapat dikomunikasikan secara baik-baik dengan kekasih.

Artinya, selain diputuskan oleh kematian, tidak ada satu pun cerita putus hubungan cinta kasih yang terjadi secara baik-baik, karena semua peristiwa putus hubungan pacaran (atau suami-isteri) pasti karena ada penyebabnya. Oleh sebab itu, kedewasaan sikap diantara masing-masing pihak yang menjalin hubungan cinta kasih, perlu dijaga.

Dalam menjalin ikatan cinta kasih, adanya sifat saling melengkapi kekurangan yang ada pada diri pasangan kekasih hati kita, merupakan sebuah kondisi yang seharusnya kita ciptakan TANPA HARUS DIMINTA. Ini bukanlah sebuah kondisi yang dapat ditawar-tawar, namun sebuah kondisi yang sepatutnya kita bangun sejujurnya, setulusnya, dan sebaik-baiknya, dengan kekasih hati kita.

Percaya deh, apabila kita biarkan sikap egois selalu hadir untuk menciptakan suasana seperti yang kita inginkan, maka pada sisi yang lain (yaitu sisi diri kekasih hati kita), api cinta itu dapat perlahan-lahan padam. Hanya menghitung waktu saja, sepertinya.

Siapa sih, yang ingin dikekang dengan hanya diijinkan mengatakan kata "ya" tanpa pernah ada sekalipun kesempatan untuk mengatakan "tidak" sebagai sikap tidak setuju? Tidak ada, karena setiap orang punya suara hati dan batasan pemikiran logis.

Mengkritisi, boleh, mengekang, jangan. Memberi anjuran, ya, boleh sekali. Tapi aktif melarang-larang, sebaiknya jangan. Bila kita coba untuk mengekang dan aktif mengucapkan kata larangan, itu sama artinya kita semakin membangun tembok rasa tidak nyaman pada diri kekasih hati kita.

Kita tidak mempunyai hak untuk mengekang atau melarang. Hak yang dapat kita nyatakan atau apresiasikan kepada pasangan kita adalah menjadikan dirinya tampil lebih baik dan lebih merasakan hakekat hadirnya cinta di hati kita dan juga dirinya. Pada kedua hal itulah ekspresi cinta benar-benar nyata bisa dirasakan.

Apabila memiliki rasa tidak puas, buatlah diri pasangan kekasih hati kita untuk memahami dengan cara-cara yang sederhana, bahwa kita tidak puas dengan sikapnya. Jangan pernah menjadi "buas" karena ada rasa tidak puas pada sikap atau dalam diri pasangan kita.

Well, cinta mungkin juga bermasalah. Apabila itu terjadi, kita tidak memiliki pilihan yang lain, selain merundingkan jalan terbaik atas kondisi itu, agar tidak ada upaya untuk menyakiti, tentunya, dengan mengatasnamakan cinta. Berhenti sejenak... pikirkan masak-masak... dan nyatakan dengan bijak.

Mengedepankan sikap emosional, tidak akan pernah berhasil menyelesaikan masalah. Demikian pula saat hubungan cinta kasih sedang ada masalah, emosi bukanlah pilihan tepat untuk mendamaikan suasana hati.

Ingatlah selalu, bahwa tiap orang punya kesempatan untuk memperbaiki keadaan pada saat ada masalah menaungi cinta. Dalam kelebihan yang kita miliki, pasti kita memiliki kekurangan. Oleh karena cinta, kekurangan itu dapat tertutupi dengan kelebihan yang dimiliki oleh pasangan kekasih hati kita. Gunakan itu untuk tampil lebih baik, bukan untuk menekan lebih keras.

Memang, segala sesuatunya itu, ada saatnya. Namun, ketika cinta adalah dasarnya, kita bisa menjadi bintang ditengah gelapnya malam, apabila kita biarkan cinta itu menjadi "malaikat" yang menyejukkan setiap kasih yang melingkupi diri dan hati kita.

So, jangan biarkan masalah menyandung adanya cinta didalam hati dan diri kita. Lakukan segala sesuatunya dengan didasari oleh cinta.


.Sarlen Julfree Manurung


tulisan ini telah diposting pada tanggal 5 Februari 2011.

http://www.facebook.com/notes/juvee-manroe/jangan-biarkan-masalah-menyandung-cinta/160895460626836

Tak Selamanya Diam Itu Emas

Beberapa bulan yang lalu, seorang teman mengisi kolom status facebook miliknya dengan kata-kata berikut :

"Mendengar, mencerna kata demi kata, merenung dan berpikir, hingga mendapatkan kesimpulan... lalu menindaklanjuti... naaaah... yang terakhir ini yang paling susah..."

Yaa... bicara teori saja, memang mudah. Lancar-lancar saja mulut kita bicara. Namun tidak demikian halnya dengan mengupayakan adanya suatu formulasi jawaban yang tepat guna serta tepat sasaran, terhadap masalah yang sedang kita hadapi. Kita cenderung mati gaya, bahkan mungkin diam saja, karena tidak mampu berbuat apa-apa.

Sering kali, kita menganggap memecahkan suatu masalah, bukanlah perkara mudah. Kenapa bisa ada pemikiran seperti itu ya?

Karena, pada saat kita merenung, kita malah larung dalam tangis, meratapi adanya masalah sebagai nasib yang membuat kita susah, bukannya berusaha mencari jalan keluar atas masalah yang sedang dihadapi.

Inisiatif diri seakan tidak ada, karena belum apa-apa sudah mengatakan tidak siap, padahal belum “mencoba melangkah” untuk menemukan jalan pemecahan masalah. Alasannya, tidak percaya diri, atau takut mendapat malu. Takut salah.

Ada sederetan nada-nada sumbang yang bergetar namun tak mampu terucapkan. Demikian pula dengan sikap kita, nyaris tak bergeming, seperti sudah mati rasa. Jangankan mengambil tindakan, bahasa tubuh kita saja sudah menunjukkan sikap orang yang pesimistik dan penuh dengan keraguan, seperti sikap orang yang tidak siap menerima tantangan.

Perlahan-lahan mundur sebelum bertempur. Tak punya nyali atau keberanian diri mengambil sikap. Kita seperti orang “bermasalah” karena tidak mampu keluar dari masalah kita sendiri.

Dalam kesempatan berbeda, menasehati orang lain, kita jagonya. Akan tetapi, kita justru mengalami kesulitan saat harus menjalankan suatu rencana aksi, sebagai upaya nyata dalam menyelesaikan permasalahan yang sedang kita hadapi. Bisanya meminta / menanti bantuan orang lain saja.

Ragam persoalan di dalam hidup ini, baik susah atau mudah, terkadang membuat kita seakan berada dibawah bayang-bayang ketakutan tak mampu untuk berbuat sesuatu. Padahal, kita sendiri belum melakukan apa-apa (mencoba berbuat sesuatu), kita sendiri belum menyampaikan pandangan kita.

Terkadang, meskipun sudah mencoba berbuat sesuatu seatraktif mungkin, dan sudah pula mencoba untuk mengkomparasi sejumlah teori pemecahan masalah (katanya, biar tidak salah membuat dasar pertimbangan), akan tetapi tetap saja kita merasa terintimidasi oleh keadaan, bingung atau merasa tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri.

Alasannya, karena kita tidak tahu aral mana yang akan dipilih untuk dijalani, meskipun semua arah pemecahan masalah yang kita bangun, sudahlah tepat.

Beberapa orang bahkan sampai jatuh sakit atau mengalami stress berat, karena tak kunjung berhasil keluar dari masalah yang sedang dihadapi. Karakter dan perilaku seseorang memang bisa berubah apabila terlalu lama berada dalam tekanan. Minimal, ritme kehidupan tak lagi sama.

Tersesat dalam kebimbangan, membuat peluang untuk kembali menjadi orang yang merdeka dari masalah, terhenti seketika. Seakan ada yang mengganjal dan membuat langkah terhenti, utamanya, kalau masalah yang sedang dihadapi, bertutur tentang : masa depan, hubungan asmara dengan orang lain, atau kemampuan dan kesanggupan diri untuk dapat survival dalam hidup ini.

Hidup penuh dengan masalah, memang bukanlah impian. Namun hidup tanpa ada masalah, adalah keadaan yang tidak membuat kita belajar, mengetahui cara menyikapi atau menyelesaikan masalah dalam hidup ini.

Pada dasarnya, masalah merupakan “model” pembelajaran hidup terbaik, jika kita ingin melihat dan mengetahui bagaimana realita kehidupan dan tatanan / perspektif keadaan yang tidak terbayangkan sebelumnya, atau ketika kesalahan harus segera ditangani agar tidak menimbulkan dilematika baru di kemudian hari.

Apalagi kalau seseorang telah menghadirkan anggapan : tidak semua permasalahan bisa diselesaikan dengan mudah, dan tidak semua upaya penyelesaian masalah, bisa dilakukan secara tuntas.

Oleh sebab itu, setiap permasalahan harus segera diselesaikan agar tidak menjadi lebih complicated atau menghadirkan masalah baru. Jadi, jangan pernah kita membiarkan masalah berlarut-larut tidak terselesaikan, dan menghantui benak pikiran kita. Diam itu, tidaklah emas.

Sebuah pepatah lama mengatakan : Manusia bisa karena biasa. Mungkin kalau ingin diterjemahkan secara bebas, pepatah itu bisa diartikan, sebagai : pengalaman merupakan guru yang berharga.

Demikian pula halnya dengan adanya keberanian mengemukakan pendapat atau pandangan, yang dinyatakan sebagai upaya memecahkan masalah. Jika kita tidak pernah ragu untuk menyampaikan pendapat atau pandangan, maka semakin cepat pula kemampuan daya nalar kita untuk mencari, menemukan, dan memformulasikan jawaban dari sebuah pemecahan masalah.

Sedangkan pada sisi yang lain, terlalu sering seseorang mengatakan tidak mampu, tidak berani, atau tidak siap, selain bisa menimbulkan stigma negatif orang lain, juga bisa mempengaruhi sikap agresif seseorang untuk dapat cepat bertindak menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya. Merendah boleh-boleh saja, tapi membodohi diri sendiri, sebaiknya jangan.

Oleh sebab itu, menghadirkan pola berpikir kritis, merupakan sebuah kebutuhan, karena sikap kritis akan membuat perhatian seseorang, sepenuhnya tertuju pada upaya penyelesaian masalah secara tuntas.

Selain itu, kita juga harus menumbuhkan keberanian diri untuk menghadapi problema kehidupan, dengan menyampaikan opini, saran dan masukan, pandangan, atau bahkan, sebuah konsep pemecahan masalah.

Sebuah keberanian untuk menjawab permasalahan yang sedang dihadapi, harus kita hadirkan. Manfaatnya, keberanian akan mendorong diri kita untuk bisa menunjukkan segenap potensi yang kita miliki, dengan mengeksplorasi segenap pengetahuan dan kemampuan diri, pada saat berada diantara kuatnya tekanan permasalahan yang sedang kita hadapi.

Selain untuk menunjukkan kualitas diri kita, juga untuk menguji kemampuan kita dalam mengurai dan memecahkan masalah, dengan mengeksplorasi segenap pengetahuan dan peningkatan kinerja kita.

Apabila kita dapat menyelesaikan suatu masalah dengan baik, sama artinya kita tidak membiarkan adanya tekanan yang datang dan menghantui diri serta pikiran kita. Sebuah tekanan yang justru membuat kita lemah dan terlihat lemah, yang datangnya dari cibiran mulut orang lain atau dari bayang-bayang perasaan yang tak menentu.

Ketika sebuah keberhasilan berhasil kita capai, akan menghadirkan kebanggaan pada diri sendiri. Dan ketika kita bisa menunjukkan diri, mampu menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi, maka keberhasilan itu akan memberikan nilai tambah bagi diri kita sendiri di mata orang lain.

Jadi, tidak akan ada kebuntuan suasana dan hati yang nelangsa karena masalah yang menggantung, sebagai akibat dari berlarut-larutnya upaya penyelesaian masalah karena kita memilih diam seribu bahasa. Kita harus bisa bersikap fleksibel, tidak hanya terpaku. Ada kegairahan dan daya upaya untuk membuat diri kita terbebas dari masalah.

Well, berdiam diri saja, tidak membuat kita bisa memecahkan masalah.

God give us a smart brain, two ears, and one mouth. With all of that, you can do something, before you talk too much. Inspiring and motivating yourself with some of good idea’s, not to be silent. Make your body move. Be agressive.

After that, you must try, try again, try again, and again, and again. You must believe that you can make everything is gonna be alright (again). That is one of the key of a success (ada satu kemauan, ada kegigihan, ada rasa percaya diri, ada semangat tinggi serta ada keberanian... untuk bicara).

You must do something, karena tidak selamanya diam itu emas. Tidak selamanya...

.Sarlen Julfree Manurung



catatan ini pertama kali diposting pada tanggal 10 Januari 2011.
http://www.facebook.com/note.php?note_id=154553334594382

What Is Your Purpose?

Judul tulisan saya kali ini merupakan thema yang diangkat dalam sesi perbincangan di Radio HardRock FM Jakarta pagi ini.

Perbincangan tersebut menarik untuk disimak, selain karena dipandu oleh 2 orang penyiar Radio HardRock FM Jakarta, Ayu Dewi dan Iweth Ramadhan, topik tersebut dibahas oleh Rene Suhardono, seorang CareeCoach, trainer dan penulis buku-buku best seller, yang karya tulisannya banyak mengangkat sisi humanisme serta upaya pengembangan karir.

Keberhasilan hidup dapat lebih cepat dicapai apabila setiap orang telah terlebih dahulu menentukan seperti apa tujuan hidup (purpose) yang ingin dicapai saat melangkah menapaki hari-hari kehidupan yang penuh tantangan.

Why we need to make a purpose in life?

Pada dasarnya, menetapkan tujuan hidup membuat kita memiliki konsep serta gambaran yang jelas, ingin dibawa ke mana hidup ini mau diarahkan. Harapannya, jalan hidup yang terkonsep, membuat kita tidak akan menyimpangkannya kekiri atau kekanan, atau dilalui dengan asal-asalan.

Dalam hal ini, seseorang yang memiliki tujuan hidup, akan lebih cepat menggapai cita-cita, karena seseorang yang telah menetapkan tujuan hidup, tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna atau membawa manfaat, sehingga upaya memenuhi target pencapaian tujuan hidup, dapat segera terealisasikan.

Arti penting lainnya, dengan menetapkan suatu tujuan hidup, kita telah mendorong agar hidup kita menjadi jauh lebih bermakna dan membawa arti, tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga bagi orang lain.

Hidup yang memiliki arah akan membuat hari-hari kita penuh gairah (passion), yaitu adanya suatu keinginan, tekad, dan semangat agar segenap langkah yang kita tempuh, mengarah pada upaya mencapai tujuan hidup.

Setiap orang memiliki purpose-nya masing-masing. Purpose dari pendiri Microsoft adalah : setiap orang memiliki satu PC (personal computer). Purpose Barack Obama sebagai Presiden adalah : mengembalikan kejayaan Amerika Serikat. Sedangkan purpose dari seorang Rene Suhardono, adalah : membantu banyak orang untuk menjadi diri sendiri, tampil lebih baik atau their ultimate-self.

How about aspiration?

Meskipun sama-sama merupakan bentuk "target" pencapaian jalan kehidupan, namun pada dasarnya, purpose memiliki alur (proses) yang lebih panjang dibandingkan dengan alur dari pencapaian aspiration (cita-cita).

Dalam hal ini, purpose bagaikan sebuah target pencapaian yang berlaku seumur hidup. Saat cita-cita telah diraih, sangatlah mungkin kalau purpose masih dalam proses pencapaian.

Kesamaan antara purpose dan aspiration, adalah keduanya sama-sama membutuhkan adanya passion yang berfungsi untuk memacu semangat agar pencapaian dapat seperti yang diinginkan.

Tanpa ada passion, usaha pencapaian purpose atau aspiration, hanya akan jalan di tempat. Selain itu, ketika keduanya telah tercapai, ada rasa bahagia yang melingkupi hati dan hidup ini.

Rene Suhardono mengatakan, ada 2 hal penting yang patut diberlakukan saat seseorang menentukan purpose-nya.
1. Mengetahui dengan baik seperti apakah purpose yang ingin dicapai.
2. Menjadikan purpose sebagai kunci dalam menjalani aktifitas kehidupan.

Warna kehidupan akan terasa lebih indah, apabila masing-masing kita menetapkan adanya purpose sebagai sebuah target yang akan kita jalani, sehingga hidup ini akan lebih memiliki arti dan manfaat, tidak hanya kepada diri sendiri, namun juga kepada orang lain.

So, what is you purpose? Did you already have it?



.Sarlen Julfree Manurung



catatan ini pertama kali diposting pada tanggal 28 Juli 2010.
http://www.facebook.com/note.php?note_id=115785691804480

Belumlah Terlambat (untuk Mengucapkan kata : MAAF)

Seorang teman pernah bercerita, dirinya butuh waktu berbulan-bulan bergumul sebelum akhirnya siap untuk membuat keputusan : mendatangi sahabatnya untuk meminta maaf, karena dirinya telah menuduh sahabatnya itu sebagai dalang dari suatu peristiwa, yang kelak membuatnya harus menghadapi suatu masalah besar.

Yup, ternyata tuduhan itu hanyalah ekspresi kemarahan sesaat, yang dinyatakannya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.

Ketika amarah sedang berkecamuk didalam dada, terkadang (bahkan mungkin sering kali), mulut ini "sangat kreatif" untuk mengucapkan pernyataan-pernyataan yang menyakitkan. Tentu saja, keramaian yang tercipta, untuk membuat hati dan perasaan orang lain terluka, bahkan bila perlu, berlaku sepanjang masa.

Bener banget kalau ada yang bilang : Dalam amarah, ada sederet dosa yang mengekor dibelakangnya.

Menempatkan orang lain dalam posisi bersalah, adalah sebuah kejahatan. Akan dianggap sangat jahat, apabila ternyata pelakunya tahu dan menyadari bahwa tindakan itu adalah perbuatan yang disengaja, untuk tujuan mempermalukan, menjatuhkan nama baik, atau membuat orang lain mendapatkan "hukuman" dari publik.

Kenapa ya, harus menyakiti? Apa gak ada perbuatan benar yang bisa dirupakan?

Terlambat menyadari pernah membuat kesalahan, adalah lebih baik apabila dibandingkan dengan membiarkan keadaan tetap salah, atau tanpa kita sendiri sekali-kalipun mau memikirkan adanya nilai kebenaran dari mengakui adanya kesalahan.

Orang pintar, harus bisa bertindak bijaksana. Seorang terdidik, selayaknya cepat menekap mulutnya saat mengucapkan kata-kata penuh kebodohan.

Jadilah pribadi yang rendah hati, bertindaklah dengan nurani, bukan dalam amarah.


GBU Everybody.


.Sarlen Julfree Manurung



catatan ini pertama kali diposting pada tanggal 5 Agustus 2010.
http://www.facebook.com/note.php?note_id=117641404952242

Kegagalan

Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan, termasuk, seorang balita. Lho, kenapa anak balita termasuk didalamnya? Karena anak balita juga pernah gagal (baca : sering tak berhasil) merayu orang tua untuk dapat memenuhi keinginan mereka, walau sudah menangis dengan disertai jeritan keras.

Bisa dikatakan, yang membedakan kegagalan dari setiap orang adalah tingkat intensitas (seberapa sering mengalami kegagalan) dan bagaimana kegagalan (dampak) bisa mempengaruhi alur kehidupan.

Jadi, jangankan sekedar "merasakan" kegagalan, semua orang di dunia ini pasti pernah mengalami kegagalan. Masalahnya, tidak semua orang siap menghadapi kegagalan.

Anthony J. D'Angelo mengatakan : "In order to succeed you must fail, so that you know what not to do the next time."

Sebuah keberhasilan dapat diraih apabila seseorang terlebih dahulu pernah mengalami kegagalan sehingga dirinya tahu apa yang harus dilakukan di masa yang akan datang agar tidak lagi gagal, terutama apabila kita menempatkan kegagalan yang sudah pernah kita alami menjadi point of value yang akan membuat kita lebih mempersiapkan diri agar bisa tampil lebih baik (alias, tidak gagal lagi).

Keberhasilan yang diraih setelah mengalami kegagalan, terjadi apabila kita sendiri mau belajar dari kegagalan itu sendiri. Dalam hal ini, kita tidak membiarkan rasa kecewa atau perasaan tertekan karena pernah gagal, tetap bernaung dalam diri kita. Oleh karena kegagalan yang pernah kita alami, kita seharusnya lebih memacu diri untuk dapat menghasilkan yang terbaik atau benar, dengan tidak mengulangi lagi hal-hal yang telah membuat diri kita gagal.

Kenapa bisa terjadi kegagalan?

Kegagalan terjadi karena : kita tidak secara konsistensi menjaga / menerapkan segenap langkah, rencana, atau aturan main yang ada, agar tetap berada pada rel-nya.

Sebuah kegagalan juga bisa terjadi karena kita tidak menerapkan prinsip-prinsip yang benar karena bertindak lalai, ada rasa ragu atau kurang percaya diri saat berupaya menemukan jalan keluar penyelesaian masalah.

Dalam kondisi tertentu, kegagalan juga dapat terjadi karena seseorang tidak siap untuk menghadapi atau mengantisipasi adanya suatu kondisi maupun hal-hal tertentu yang tidak dibayangkan sebelumnya, sehingga akhirnya menyebut tindakan tidak siap dan tidak antisipatif yang membuat dirinya harus mengalami kerugian tersebut sebagai sebuah kegagalan. Selain itu, kegagalan juga bisa terjadi karena kita tidak cermat (kurang hati-hati) dalam bertindak.

Apakah kita harus mengalami kegagalan?

Tentu saja tidak. Namun terkadang, meskipun kita telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, atau berusaha untuk bisa mengantisipasi serta memperhatikan hal-hal yang mungkin saja bisa membuat diri kita mengalami kegagalan, kegagalan bisa saja terjadi, karena tidak semua hal bisa kita antisipasi.

Langkah yang bisa kita tempuh, bersikaplah hati-hati, tidak gegabah, dan berusahalah untuk pro-aktif mencapai puncak keberhasilan seperti yang kita inginkan, serta bijaksanalah dalam bertindak dan dalam membuat keputusan.

Pernah gagal itu bukanlah sebuah kesalahan. Namun ada baiknya lagi kalau kita berusaha agar tidak pernah mengalami kegagalan, atau bahkan berulang kali mengalami kegagalan dalam hidup ini. Positive thinking ajah.

Oleh sebab itu, kegagalan yang pernah terjadi, sebaiknya hanya diposisikan sebagai sebuah peristiwa yang berlaku situasional semata, dan tidak dibiarkan terpendam menjadi "mimpi buruk" yang terus membayangi alur perjalanan hidup.

Kegagalan dalam hidup memang merupakan sebuah kondisi dan konsekuensi yang tidak ingin kita temui dalam kehidupan kita. Akan tetapi, kita jangan memandang kegagalan sebagai sebuah kondisi kalah yang tak mungkin membuat kita menang di kemudian hari.

Jangan pernah takut gagal, karena kegagalan merupakan salah satu bentuk pelajaran berharga untuk kita bisa meraih kesuksesan / bersinar terang di masa datang, dengan memperbaiki segenap kesalahan, dan sebisa mungkin, tidak mengulangi lagi kesalahan yang pernah terjadi. Belajarlah kepada para penemu.

Bagaimana dengan : gagal dalam hubungan cinta kasih?

Sama seperti kegagalan dalam berusaha atau menyelesaikan suatu pekerjaan, dalam jalinan hubungan cinta kasih, juga bisa terjadi kegagalan. Penyebabnya : hilangnya kepercayaan, kurang komunikasi, dan adanya sifat / sikap yang kurang berkenan di hati.

Prinsip untuk menjaga hati, pikiran dan juga sikap, bukanlah sebuah pilihan dalam membina hubungan cinta kasih, akan tetapi bagian dari ketentuan dasar dalam menjalani kehidupan, karena apa yang kita inginkan di dasar hati, apa yang kita pikirkan dalam benak pikiran kita, serta apa yang kita lakukan selama terikat hubungan kasih dengan orang lain, tidak menjadi batu sandungan bagi kelanggengan hubungan, dimana kegagalan kita dalam menjaga hati, pikiran, dan hati kita, akan membuat kita gagal menjaga hubungan cinta kasih yang ada serta telah terbina.

So, what is the last statement?

Kehidupan memang penuh dengan pernak-pernik, salah satunya, kegagalan dalam hidup. Tak dapat dipungkiri, kegagalan merupakan bagian dari realita kehidupan. Akan tetapi, itu semua hanyalah bagian dari kisah hidup, bukan alur hidup, asalkan kita mau belajar dari kegagalan yang pernah kita alami.

Paculah diri untuk memperbaiki keadaan, dan jangan hanya meratapinya saja. Akan ada pintu gerbang yang terbuka untuk kita lalui, meninggalkan segenap kegagalan di belakang sana, berganti dengan keberhasilan hidup, karena keberhasilan hidup bukanlah mimpi setelah kita pernah gagal.

Sebuah kegagalan, mungkin atau boleh-boleh saja terjadi. Namun akan lebih baik lagi kalau tidak pernah terjadi. Kalau pun pernah terjadi, janganlah kita menjadi lemah, karena masa depan tetap ada dan tidak akan punah, meskipun kita pernah gagal.

Have a nice day.

.Sarlen Julfree Manurung

Aku Ingin Bahagia (Inspirasi Menggapai Kebahagiaan Hidup)

Banyak orang yang hingga masa tua usia mereka, masih merasa belum mampu mencapai kebahagiaan hidup, tidak hanya untuk bisa menjalani hidup bahagia bersama orang-orang yang mereka kasihi, namun juga untuk bisa menggapai kebahagiaan hidup bagi diri mereka sendiri.

Dalam benak pikiran sejumlah besar orang, menggapai kebahagiaan hidup bagaikan sebuah mimpi yang tak pernah usai karena terasa sulit untuk diwujudkan, meskipun telah dilakukan berbagai upaya bisa menggapai impian (yaitu : hidup bahagia).

Cerita kehidupan yang bertutur tentang hidup bahagia, hanyalah sebatas angan. Seseorang seakan “dipaksa” untuk menerima dengan sikap pasrah segenap alur kehidupan yang telah tercipta / dijalani, yaitu dengan membangun opini publik (menyatakan hidup mereka bahagia), agar perasaan “belum merdeka” dari berbagai tekanan hidup, tidak nampak dan menjadi soroton atau bahan perbincangan orang lain.

Mereka seakan-akan sudah cukup puas dengan kualitas hidup maupun kemampuan ekonomi yang “apa adanya” saja. Sedangkan sejumlah orang lainnya, justru aktif menutupi segenap keadaan yang tidak menentu agar jalan kehidupan mereka “terlihat cantik”, meskipun hanya diluarnya saja.

Pada sisi yang lain, tidak sedikit orang yang justru beradaptasi dengan cerita kehidupan yang penuh dengan sandiwara agar suasana hati dan kondisi hidup mereka yang sesungguhnya tidak sepenuhnya berbahagia (atau ternyata memang benar-benar tidak bahagia) serta telah mengganggu / menyusahkan hati dan pikiran mereka, agar tidak terlihat orang lain, seakan-akan segala sesuatunya baik-baik saja.

Kedua keadaan tersebut tentu saja bukanlah suatu keadaan yang benar-benar ingin mereka jalani. Hidup yang penuh dengan sandiwara atau membohongi diri sendiri, mereka lakukan / jalani agar mereka tidak mendapatkan malu dihadapan orang lain, khususnya dari orang-orang yang mengenal mereka.

Tidak salah kiranya kalau kemudian disebutkan, hidup yang berbahagia merupakan bagian dari pilihan jalan hidup bagi setiap insan manusia, tanpa terkecuali.

Hidup yang berkembang, terus bergerak maju / mengalami peningkatan, yang ditandai dengan adanya sejumlah mimpi yang terwujud, merupakan sebuah keadaan yang seharusnya terjadi dalam kehidupan.

Akan tetapi, bagi sejumlah orang, keadaan tersebut sulit untuk diwujudkan / dirasakan, sehingga pada akhirnya mereka menghadirkan berbagai alasan yang dianggap dapat membenarkan situasi / keadaan yang sesungguhnya tidak ingin mereka lalui atau mereka rasakan saat ini.

Inspirasi kemajuan hidup hanya berlaku sebagai victim, karena tak mampu diterjemahkan, dikelola serta diolah untuk bisa menjadi sebuah victory (keberhasilan hidup yang mendorong terciptanya kebahagiaan hidup).

Padahal, keadaan tak mampu berbuat lebih, hanya akan menghadirkan pandangan-pandangan skeptis orang lain semakin mengemuka, layaknya sebuah ungkapan lama yang mengatakan : “Kalau segenap usaha mereka bisa membuat mereka meraih kebahagiaan hidup, kenapa Anda tidak bisa melakukan hal yang sama?”

Sebuah keberhasilan hidup adalah sesuatu hal yang harus dikejar dan diproyeksikan untuk bisa menjadi kenyataan. Oleh sebab itu, segenap daya upaya untuk menggapai kebahagiaan hidup, tidak diletakkan sebagai sebuah beban, namun sebagai sebuah proses perjalanan kehidupan yang memang harus dilalui.

Apabila ingin merasakan kebahagiaan hidup, buang jauh-jauh segenap sikap pesimis dan tetap terlena dengan keadaan yang tak menentu, dengan do something.

Dalam kerangka berpikir sederhana, adanya sejumlah hambatan ketika ingin meraih kebahagiaan hidup, selayaknya diterjemahkan sebagai : you need to work hard and must have planning for your life.

Menghadirkan resolusi kehidupan (yang diusahakan agar bisa terwujud) dalam periode waktu tertentu, merupakan sebuah langkah tepat, terutama untuk menepis adanya anggapan : kemajuan hidup hanya berlaku bagi orang-orang tertentu saja. Awali dengan menghadirkan resolusi-resolusi sederhana, yang secepat mungkin bisa diraih, hingga pada akhirnya membuat suatu resolusi kehidupan dengan target : tergapainya suatu puncak pencapaian tertinggi.

Ubahlah dimensi pemikiran yang hanya terbatas dengan pada sikap cukup puas dan pasrah menerima keadaan sekarang, akan tetapi tetap terus menghadirkan sebuah tekad (komitmen diri) untuk hidup maju, dan tak berhenti membangun serta memompa rasa percaya diri, dimana kedua hal tersebut, bisa memacu semangat serta etos kerja dalam menggapai mimpi, cita-cita, serta harapan.

Hindari adanya sikap iri yang bisa menggelapkan mata hati, namun kembangkan keinginan untuk bisa membangun diri agar dapat tampil lebih baik, dengan melihat / mencontoh upaya-upaya terukur dari orang-orang yang telah berhasil dan hidupnya dipenuhi oleh rasa bahagia.

Sedangkan pada sisi yang lain, kebahagiaan hidup juga dapat diraih apabila kita dapat mengembangkan sikap toleransi dan menghargai orang lain, sehingga kita tahu, sebuah iklim kebersamaan yang dibangun secara sehat, akan mampu menghadirkan kebahagiaan hidup seperti yang diinginkan.

Namun, hal yang paling penting untuk dilakukan agar diri ini dapat berbahagia : berusahalah untuk dekat pada TUHAN, karena TUHAN adalah sumber inspirasi kehidupan yang bisa menghadirkan kebahagiaan hidup dan rasa sukacita yang tak terkira indahnya.

Kesuksesan memang tidak terjadi dengan sendirinya, akan tetapi dilalui melalui tangga pencapaian keberhasilan hidup secara berjenjang, yang bisa dicapai apabila setiap insan manusia tak jemu-jemu berdoa pada TUHAN dan bekerja keras untuk menggapai impian, yaitu merasakan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya.

Menggapai kebahagiaan hidup memang membutuhkan kerja keras. Oleh sebab itu tidak salah kiranya kalau dikatakan, segenap upaya menggapai kebahagiaan hidup adalah sebuah pilihan, karena kebahagiaan hidup adalah sebuah proses yang tercipta karena kita memiliki keinginan kuat untuk hidup bahagia dengan bekerja keras dan mengembangkan sikap toleransi, melupakan segenap ego serta kekerasan hati.


.Sarlen Julfree Manurung

Antara Gunting, Jarum, dan Benang (Memaknai Sebuah Persahabatan)

Dalam blog pribadinya, seorang teman saya menulis sebuah catatan kecil yang menarik untuk disimak dan menjadi pembelajaran hidup bagi banyak orang, terutama dalam merangkai tali persahabatan dengan orang lain. Adapun catatan kecil teman saya itu, isinya :

Sahabat itu bukan berjalan seperti gunting

meski lurus tapi memisahkan yang menyatu

tapi sahabat itu berjalan seperti jarum beserta untaian benangnya

meski menusuk & menyakitkan

tapi menyatukan yang terpisah

Kalau dipikir-pikir, benar juga kata-kata teman saya dalam catatan kecilnya itu. Fungsi gunting memang untuk memotong. Semua benda yang tadinya menyatu, bisa terpisah-pisah menjadi bentuk potongan setelah dipotong dengan menggunakan gunting.

Bagaimana dengan jarum?

Meskipun kecil, apabila terkena kulit, ujung sebuah jarum bisa membuat luka atau menimbulkan rasa sakit. Namun, ketika sebuah jarum disatukan dengan seuntai benang, jarum itu justru bisa kita pakai untuk menyatukan benda-benda yang terpisah atau robek.

Dalam lingkup pergaulan, selayaknya kita menjadi pribadi yang dapat menyatukan, bukan memisahkan. Seorang sahabat seharusnya menciptakan harmoni dalam dinamika kehidupan pergaulan, dan bukannya menjadi sumber perpecahan, permusuhan, atau pihak yang membakar sekam ditengah-tengah keriuhan sebuah peristiwa.

Sahabat yang baik, adalah pribadi yang perduli dengan kekisruhan suasana hati sahabatnya, dimana sikap perduli ditunjukkan dengan upaya membangkitkan gairah hidup, bukan menciptakan bara dalam hati sahabat yang sedang gundah.

Ketika sedang memasuki ruang gelap, seorang sahabat hadir membawakan pelita agar sahabatnya tidak tersesat atau tersandung benda yang tergeletak di lantai.

Nasehat seorang sahabat dinyatakan sebagai tanda kasih, bukan untuk menjerumuskan atau membuat sahabatnya semakin tertekan oleh masalah, atau bahkan mendapatkan masalah baru.

Ada banyak rangkaian kata-kata yang bisa dibuat untuk mendefinisikan arti persahabatan, bagaimana persahabatan bisa membawa arti dan serupa sebongkah rona sukacita dalam kebersamaan.

Dinamika kehidupan dalam persahabatan sejati, memang tidak selalu dilalui dalam suasana harmonis. Ada kalanya menjengkelkan, ada saatnya menyebalkan. Tak jarang pula, seorang sahabat lancar mengucapkan kata-kata yang menyakitkan untuk maksud menyadarkan.

Amarah juga dapat timbul. Namun itu semua tidak untuk menghadirkan satu keinginan, yaitu menghancurkan hidup sahabatnya.

Seperti halnya jarum dan benang, seorang sahabat selayaknya merangkai kembali lembar-lembar yang terpisah atau robek hingga menyatu kembali, sehingga terbentuk sebuah lembar baru dalam kesatuan utuh.

Haruskah kita bersikap layaknya fungsi sebuah gunting dalam persahabatan, yang memisahkan dan bukan menyatukan?

Mungkin akan ada yang berteriak : "Terkadang seorang sahabat perlu bersikap sebagai gunting bagi sahabatnya agar sahabatnya itu tidak terjerembab pada masalah besar".

Ya, memang benar, tapi hanya saat sahabatnya sedang menghadapi masalah yang bisa membuatnya jatuh dalam lembah kenistaan atau dosa. Saat itulah seorang sahabat bisa bertindak sebagai gunting dalam tali persahabatan dengan sahabatnya.

Selain itu, janganlah kita berperilaku sebagai gunting, sebab seorang sahabat hadir : bukan untuk menghancurkan, bukan untuk menyesatkan ataupun memecah rasa hingga menjadi semakin bimbang.

Kesetiaan seorang sahabat akan terlihat ketika sahabatnya sedang memiliki masalah. Apakah dirinya akan turut merasakan kepenatan dan rasa bimbang sahabatnya, atau malah menjadi benalu yang ingin merusak?

Jadilah sahabat yang bisa merangkum kembali lembar-lembar yang terpisah dalam hati sahabatnya, seperti halnya fungsi jarum dan benang. Hindari diri untuk memilih menjadi gunting, sebab pilihan sikap itu, tidak akan melanggengkan persahabatan.

Sekali lagi, jadilah sahabat yang baik.


.Sarlen Julfree Manurung